Lantunan Musik dalam Kesunyian Perasaanku
Oleh: Rasya Cinthia Haifa
“Kamu hadir hanya sebagai lantunan musik yang dapat kudengar dalam kesunyian perasaanku.”
Semua bermula dari satu langkah kecil tak bersuara, hanya ada jejak jari yang saling bersentuhan melalui sebuah pintu kecil di layar. Meski perubahan itu nyaris tak terasa, namun kehidupan yang semula monoton perlahan menjelma menjadi suatu perjalanan baru, dan aku akan tetap berusaha melangkah mengikuti setiap proses serta alur yang ada di dalamnya, tanpa tergesa.
Aku mulai menyusuri huruf-huruf dalam namamu, layaknya seorang peziarah yang dengan sadar memilih untuk tersesat dan tinggal lebih lama dalam labirin doa. Lalu aku menemukanmu, bukan dengan menyentuh ragamu, bukan pula dengan menatap wajahmu; cukup dengan mendengar alunan merdu suaramu yang perlahan menetap dalam ingatan dan perasaanku, seolah ada bagian dari diriku yang enggan kembali untuk benar-benar sunyi.
Aku jatuh hati dengan cara yang paling sepi: menatapmu dari kejauhan melalui rekaman video yang kuputar berulang kali. Aku belajar menata perasaanku dalam sunyi, menerima kenyataan bahwa tak semua hal indah ditakdirkan untuk dapat aku genggam, seperti kamu yang hadir hanya sebagai lantunan musik dalam kesunyian perasaanku.