Ayah, Ternyata Aku Harus Terus Kuat Ya..

 

Ayah, Ternyata Aku Harus Terus Kuat Ya..

Oleh: Leo Farid Ruhiana

“Anak laki-laki Ayah harus terus kuat ya, Nak. Ayah percaya kamu akan tumbuh menjadi pria tangguh seperti Ayah kelak.”


Ayah, sudah bertahun-tahun lamanya, namun kalimat itu masih membekaskan jejak di benakku; tak sirna sama sekali oleh waktu yang terus berlalu tanpa henti. 


“Nak.. Ayah selalu ada di sini, membimbing kamu untuk bersikap layaknya seorang pria. Walau nanti Ayah pergi dan tak bisa kembali, ingat terus ya Nak, Ayah akan selalu hidup dalam jiwamu, dalam nyala api semangatmu, bahkan dalam setiap hembusan napas yang engkau keluarkan. Jangan pernah merasa sendiri karena Ayah akan tetap ada di sana.” 


Kalimat yang kerap engkau ucapkan untuk menguatkan aku agar menjadi seorang pria sejati, pria yang tak mudah menyerah oleh nasib, dan pria yang bertanggung jawab atas jalan hidup yang dipilihnya sendiri. 


Ayah.. sejak engkau tiada, aku kehilangan arah. Jalan yang kita bangun bersama ketika aku kecil telah kehilangan ujungnya. Ayah, aku harus ke mana?


"Nak, jadilah pria yang jauh lebih baik, pria yang menyayangi dan mencintai ibumu, istrimu, serta anakmu, meskipun Ayah tak ada di sampingmu kelak."


Ayah, kalimat itu terus terngiang di dalam hati dan ingatanku. Usap lembut tanganmu di surai rambutku seraya menuturkan sepatah doa kebaikan untukku. 


Kalau boleh aku berkata jujur, dunia ini terasa begitu berat dan melelahkan, karena terlalu banyak menguras tenaga serta pikiranku. Semakin dewasa semakin aku sadar betapa besarnya tugas serta tanggung jawab sebagai seorang pria. Kini aku paham mengapa engkau selalu termenung sendiri dikala malam tiba, duduk dalam diam dan tenggelam di perenungan yang panjang. Ayah, ternyata menjadi pria dewasa tidak seindah yang aku bayangkan dulu, terkadang aku merasa kebingungan untuk menciptakan jalanku sendiri, agar aku tahu ke mana aku harus melangkah meski tanpa hadirnya sosokmu.


"Hadapilah setiap cobaan dan rintangan dengan hati yang tabah dan tegar. Anak laki-laki Ayah jangan pernah lari dari tanggung jawab dan pilihan yang sudah ditetapkan oleh dirimu sendiri.” 


Ayah, aku akan selalu kuat untuk melawan semua rintangan, semua rasa sakit, dan semua cercaan-cercaan itu dengan mengangkat pedang untuk menyerang takdirku sendiri. Inilah takdir yang harus aku hadapi, dan aku tak akan pernah lari dari takdirku, karena aku pria yang kuat, pria yang tangguh, dan pria yang berani 

seperti apa yang selalu engkau katakan dulu.


“Nak, jika engkau merasa teramat lelah, berhenti dulu sejenak dari gemuruh kehidupan ini. Tak apa-apa bagi seorang pria untuk mengeluh dan menangis, karena pria juga adalah manusia yang tersusun dari emosi dan/atau perasaan. Isi tenaga dan hiasi pikiranmu dengan apa yang membuatmu bahagia, namun jangan sampai lupa untuk terus bergerak, melangkah, dan tetap menyala.”


Ayah, anak kecil yang dulu engkau rawat dan asuh ini telah berubah menjadi sosok yang sama sepertimu: kuat, tangguh, dan berani. 


Ayah, engkau hidup dalam aliran darah nadiku sekak dulu. yang membuatku tahu bahwa aku harus terus kuat.


“Nak.. jadilah pria, suami, dan Ayah yang baik kelak. Untuk dirimu, untuk orang yang kamu cintai, dan untuk orang-orang yang berharga bagimu. Ayah akan selalu ada dalam hati dan ingatanmu.”


Ayah, aku selalu menyayangi dirimu, karena bagiku.. Ayah adalah raja dalam hidupku. Tenang dan damailah engkau di sana, di tempat yang indah. Biarkan aku, anakmu, yang melanjutkan perjuanganmu di bumi ini, di atas tanah ini.