Di Kala Mati Lampu
Oleh : Rey
Tak ada yang lebih aku takutkan selain kegelapan. Kepekatan yang memadamkan penglihatanku, membawaku pada suatu lembah kengerian tak berdasar. Dalam gelap aku seakan merasa diawasi oleh sesuatu yang aku sendiri pun tidak tahu.
Dalam gelap yang tak berujung, aku samar melihat sepasang mata merah yang menyala terus memelototiku.
Gelap adalah sesuatu yang sangat aku hindari. Kemana pun diri ini melangkah, aku sebisa mungkin membawa alat penerang.
Agar kejadian di malam laknat itu tidak terulang lagi.
Malam yang menciptakan teror mengerikan untukku
April 2007, pukul 22.00 malam hari
Lantunan doa terdengar mengalir lembut dari lisan beberapa warga yang tengah khusyuk membaca doa dari kitab suci. Mereka duduk melingkar mengelilingi sesosok tubuh yang ditutupi oleh selembar kain batik.
Hari itu, nenekku meninggal dunia tepat di umurnya yang ke-80. Nenek memang memiliki riwayat penyakit yang cukup berat yang terus mengikis kesehatan fisiknya. Bertahun-tahun menanggung kesakitan sampai akhirnya takdir tuhan memanggil jiwanya untuk pergi dari dunia ini.
Nenek meninggal dunia, tepat di pukul 17.30 sore menjelang magrib. Kala senjakala hadir mendekap sang waktu, binar cahaya jingga kekuningan adalah pertanda jika awal malam yang kelam dimulai. Sekaligus teror ini.
Perkenalkan namaku Ratih, seorang gadis remaja berusia enam belas tahun. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahku sudah lama wafat saat aku berumur enam tahun dan sekarang aku tinggal bersama ibuku, saudaraku, dan nenek, yang beberapa jam sebelumnya sudah meregang nyawa.
Tinggal menyisakan aku, ibu, dan adik-adikku. Kami tinggal di sebuah desa yang terletak persis di kaki gunung. Dengan hutan-hutan rimbun yang mengelilingi separuh wilayah desa, membuatnya cukup tersembunyi. Namun tidak seperti penggambaran orang-orang akan desaku, desaku nyatanya telah mengalami modernisasi dengan dibangunnya berbagai infrastruktur penting. Sehingga tidak terlalu tertinggal seperti desa-desa di pedalaman lainnya.
Namun di tengah beragam upaya pembangunan desa yang tengah getol digiatkan, masyarakat kami juga tidak serta merta melepas begitu saja adat dan kepercayaan yang diwariskan oleh leluhur.
Salah satu yang menjaga tradisi kuno dari leluhur desa adalah nenekku. Nenek memang termasuk ke dalam generasi lama yang sudah hidup sejak desa ini berdiri. Kata orang-orang, nenekku adalah orang ngelmu–Istilah bagi mereka yang katanya memahami ilmu-ilmu spiritual dan klenik. Sebuah adat atau tradisi yang kadang masih dilakukan oleh mereka yang percaya dengan roh dan hal-hal mistis. Dan nenekku salah satu diantaranya.
Sebagai orang terdekat nenek saat beliau hidup, aku kerap mendapati nenekku melakukan ritual atau upacara tertentu di rumah. Seperti membakar kemenyan, menghidangkan sesajen lengkap dengan secangkir kopi hitam, bunga-bungaan, serta ayam ingkung yang diletakkan di semacam wadah bundar dari anyaman.
Saat aku tanya apa tujuan nenek melakukan itu, beliau hanya menjawab, “ Ini persembahan dan penghormatan kita untuk Nyai Suketi, “ Pungkasnya singkat. Nenek biasanya melakukan ritual itu di kamar khusus yang disediakan untuknya. Kamar yang selalu dalam keadaan gelap tanpa cahaya.
Kamar misterius yang selalu membuatku dan adik-adikku penasaran akan isi di dalamnya. Tapi setiap kami mendekati kamar itu, nenek sering melarang. Katanya, Nyai Suketi yang ada di dalamnya akan terusik dan marah jika kami membuka pintu kamar itu.
Nyai Suketi...Sosok apa itu? Apa di kamar itu terdapat seseorang selain keluarga kami?
Saat aku menanyakan sosok yang dimaksud dengan Nyai Suketi itu kepada nenek, nenek hanya diam, menolak untuk menjawabnya. Sambil pergi berlalu dari hadapanku, nenek menyenandungkan tembang Jawa yang jujur sangat membuatku merinding.
Kini nenek telah wafat namun rahasia yang tergenggam di tangannya masih membekaskan setitik penasaran di hatiku. Sebenarnya apa yang nenek sembunyikan di kamar gelap itu?
“ Ratih..., “
Lamunanku buyar saat suara ibu memanggil namaku. Aku menoleh dan melihat ibu yang tengah membereskan piring-piring jamuan untuk para tetangga yang melayat tadi. Sekarang waktu telah menunjukan pukul 10 malam. Para pelayat dan mereka yang tadi datang untuk mendoakan nenek telah pergi, menyisakan aku dan ibu di ruang tengah bersama...
Jenazah nenek!
Malam itu hujan turun dengan derasnya. Curahnya mengguyur perkampungan ini. Membasahi pekarangan di depan dan merubah tanah halaman menjadi genangan lumpur yang becek. Hujan juga yang menjadi alasan mengapa pemakaman nenek sempat ditunda terlebih dahulu. Karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk melakukan penguburan di tanah kuburan yang pastinya tertutupi oleh air hujan.
“ Bisa bantu ibu angkat piring-piring ini, “ Kata ibu padaku Setelah dia menyusun piringpiring menjadi satu tumpukan.
Aku mengangguk dan bergegas menuju ke arahnya. Sembari melewati jenazah nenek, mataku melirik sekilas dengan penuh rasa ngeri bercampur sedih yang tak bisa dijelaskan. Kenapa nenek harus pergi meninggalkan aku dan ibu beserta adik-adik yang lain? Padahal beliau adalah sosok yang selalu memberi kehangatan untuk kami semua.
Sebenarnya kami tidak sendiri, ada dua orang tetangga yang ikut menemani, tapi dua orang itu pulang dulu ke rumah untuk suatu urusan yang mendadak.
Jadi tinggal aku dan ibu yang masih terjaga. Dua orang adikku sendiri sudah terlelap tidur di kamarnya.
“ Ratih, bawa piring-piring ini ke dapur ya, tar ibu nyusul. Ibu mau ngerapihin buku yasin dulu, “ ujar ibu dengan mata yang masih meninggalkan jejak air mata.
Tak ingin menambah kesedihan dan duka yang dirasakan ibuku, tanpa banyak protes, aku bergegas membawa piring-piring itu ke dapur. Lorong ke arah dapur yang temaram dan hening.
Gemuruh guntur yang tersembunyi di balik awan hitam bergemuruh membelah kesunyian. Di dapur, aku hanya ditemani oleh denting piring yang sedang kucuci. Selebihnya hanya sunyi yang bisa kurasa.
Dalam kondisi setengah melamun, terlintas kembali semua ingatan tentang nenek. Percakapan kami beberapa hari sebelumnya sangat jelas muncul di permukaan pikiran.
“ Nyai membutuhkan pengganti nduk, jika nenek suatu hari ini meninggal, nenek minta Ratih buat gantiin nenek melayani nyai, “
Sepintas percakapan membawaku pada sebuah kebingungan. Apa maksud nenek berbicara seperti itu? Melayani bagaimana? Dan siapa juga sosok nyai yang masih tidak diketahui itu?
Malam semakin beranjak menuju gelap yang lebih pekat. Hujan masih turun dengan derasnya. Samar aku lihat melalui jendela kaca, kondisi perumahan sekitar yang tertutupi oleh seberkas embun yang menempel.
Dalam hening, entah aku yang salah menangkap atau apa, terdengar suara tembang yang mengalun pelan dari ruang tengah.
Eling-eling wis eling...jin setan telan manungso...
Tembang yang mengingatkan pada sosok...nenek
DEG!
Jantungku melonjak keras. memompa darah yang lantas memusat di otak.
Seluruh tubuhku menggigil dan aku larut dalam ketakutan yang belum aku pernah rasakan sebelumnya
Bersamaan dengan itu...Lampu padam.
Chessss....
“ Aaaaa...ibuuuu, “ Spontan aku menjerit kencang, histeris kala cahaya di mataku padam. Mengurungku dalam gulita panjang nan kelam.
Aku menangis dalam ketakutan. Nampaknya ini mati lampu karena aku melihat rumah tetangga lain juga mengalami kondisi serupa.
Sungguh aku tak bisa melihat apa-apa. Suasana mendadak dingin dan kian hening. Bayangkan saja aku yang terjebak dalam gelap yang kosong. Tanpa ada seorang pun yang menemani. Aku panik namun aku juga masih bisa berfikir waras.
Bermodalkan ingatan, aku meraba-raba sekitar untuk menemukan kompor. Saat tanganku berhasil menyentuh benda yang aku rasa adalah kompor. Yap betul kompor. Dengan girang aku berusaha menyalakan kompor itu dan akhirnya, nyala api kecil menyibak gelap di sekitar.
Sungguh kondisi demikian sangat membuatku tidak nyaman. Aku merasa ada seseorang yang mengawasiku dari sudut-sudut gelap. Apakah itu ibu?
“ Ibu..., “ panggilku. Hening tak ada sahutan.
Aku kian panik, tanganku meraba-raba lagi berusaha mencari sebatang lilin yang aku ingat ada disini.
Dan lagi-lagi aku agak beruntung karena lilin yang aku cari, akhirnya bisa aku temukan. Walau hanya setengah batang tak utuh, namun cukup untuk menjadi cahaya penuntun dari gelap ini.
Lilin menyala dari api kompor, pelita cahaya di tengah gulita yang membawaku secara perlahan kembali ke ruang tengah. Tempat ibu berada dan jenazah nenek...
Gema kecil dari langkahku memantul pelan tatkala aku melewati lorong menuju ruang tengah. Dalam sunyi yang janggal itu, aku tak mendengar satupun suara selain deru hujan di luar. Tunggu, kenapa aku baru sadar ya jika sedari tadi aku tak mendengar satu pun suara ibu. Seolah hanya aku seorang yang tinggal di rumah ini.
“ Buuu...ibu dimana? “ aku sedikit berteriak berharap ada jawaban dari ibu. Tapi tetap saja tidak ada. Kemana ibu?
Aku semakin panik. Aku benci dengan gelap yang ada di sekelilingku. Rasanya bagai dibenamkan dalam labirin kehampaan yang tak memberi kesempatan untuk bernapas.
Aku rasanya ingin menangis. Pijar ap lilin cukup redup sehingga aku lumayan kesulitan melihat sekitarku. Gelap sekali, hingga aku sendiri tak bisa melihat ujung dari ruangan ini. Tapi yang terus menggerogoti sisi keberanianku adalah jenazah dari nenek.
Semakin mendekat ke ruang tengah, cahaya lilin perlahan menyingkap sebuah kenyataan yang menjadi awal trauma untukku selamanya.
Jenazah nenek...hilang. Ya kalian tidak salah membaca. Jenazah yang harusnya tergeletak kaku di ruang tengah itu raib menyisakan kain penutupnya saja.
Berkali-kali aku menolak percaya dengan apa yang kulihat, tapi sungguh yang tersaji di depanku adalah kenyataan. Aku menampar-nampar pipiku sendiri, berharap dapat terbangun dari mimpi yang sangat buruk ini.
“ T-tidak mungkin, ini pasti halusinasi, kemana mayat nenek? “ Aku tak mampu menahan ketakutanku lagi. Rasanya aku ingin ambruk jatuh. Tapi itu tidak terjadi karena aku lagi-lagi mendengar sebuah suara.
Suara yang memanggil namaku
“ Ratih...Ratih...Sini nak, “ pelan dan lirih tapi aku mengenalinya. Suara ibu dari deret kamar di seberang ruang tengah yang memanggilku pelan.
Dengan langkah kaki yang bergetar karena adrenalin, aku memaksakan diri untuk mengikuti suara dari ibu. Meski hati ini kecil ragu jika itu suara dari sosok yang kukenal.
“ Ratih...Ratih...Sini..., “ Suara ibu terus memanggil dengan jelasnya. Aku kian hanyut dan terus menuju ke asal suara.
Cahaya lilin bergoyang pelan, seakan terhembus oleh sesuatu. Dalam cekam yang membuatku terpana diam, aku berkali-kali merasa ada sesosok yang mengamatiku dari balik selimut gelap.
Sesuatu yang samar namun aku seolah pernah melihatnya.
Kakiku menjejak lantai menuju arah suara itu. Semakin lama, suara ibu membawaku pada lorong kecil yang terdiri dari dua pintu kamar di deret lorong kanan : Kamar Ibu dan Adikadikku.
Tapi suara ibu bukan berasal dari sana melainkan dari kamar...nenek yang terkunci rapat. Kamar itu juga yang sempat kuceritakan menjadi tempat nenek melakukan ritual misteriusnya.
Suara ibu berasal dari kamar nenek.
“ I-i-ibuuu, “ dengan nada gemetar hebat, aku sekali lagi memanggil nama ibu.
Ratihhh...sini nak...tolong ibu...
Suara ibu seperti meringis kesakitan. Aku yang semula ketakutan berubah menjadi cemas.
“ Ibu...ibu dimana? Jangan buat Ratih khawatir bu, “ teriakku pada suara ibu yang perlahan sayup-sayup itu. “
“ Apa ibu terkunci di kamar nenek ya? “ Gumamku. Tak ingin pikiran buruk tentang ibu terjadi, aku mempercepat langkah, meski tadi lilin hampir padam. Tapi untungnya tak terjadi.
Jarak antara diriku dengan kamar nenek tinggal beberapa langkah lagi, tapi semakin mendekat, firasat burukku makin meningkat.
Belum sempat aku meneruskan langkah, samar-samar bunyi gamelan sumbang terdengar dari balik pintu kamar nenek. Suara gamelan yang dibarengi dengan nyanyian lirih seorang pesinden.
Aku terpaku, jiwaku hanyut mendengar tembang Jawa yang penuh dengan lirik-lirik mistis. Tapi sisi lain diriku pun ikut terseret dalam kengerian tak berujung. Demi tuhan, nyanyian siapa itu? Apa ibu? Tapi seingatku ibu tidak bisa menyinden.
Jika bukan ibu lalu siapa...
KRIETTT...
Ratih...jadi abdi untuk nyai...
Belum selesai aku bergulat dengan ketakutanku, dalam gelap diterangi oleh api lilin, aku melihat pintu kamar nenek yang sedikit demi sedikit terbuka. Bunyi decit mengiris telinga, dan dari keluar sesosok yang membuatku tercengang hebat.
Sosok kurus dengan tinggi yang hampir menyentuh atap perlahan keluar dari kamar itu. Cahaya lilin menangkap sekilas wajah pucat ditutupi oleh rambut putih yang menjuntai hingga lantai. Sosok yang menyeringai seram dengan bola mata yang putih sepenuhnya.
Sosok mirip nenek lengkap dengan keriput-keriputnya yang aku kenali. Sosok itu telanjang dengan menampilkan keseluruhan tubuhnya yang hanya berupa seonggok tulang berlapis daging. Mirip monster yang keluar dari kegelapan.
Ratih...jadi abdi untuk nyai..
Sosok itu berbicara dengan suara serak dan parau. Tak lama sosok itu berjalan mendekatiku dengan langkah gontai sambil tertawa mengikik. Tangan terjulur panjang ke arahku seakan hendak menangkapku hidup-hidup.
Namun setelahnya, aku tak ingat apapun karena diriku yang tergeletak pingsan tak sadarkan diri. Malam itu menjadi malam yang tak akan pernah aku lupakan, selamanya...
TAMAT