FRAGMEN DI UJUNG HARI
Oleh: Septi Siti Ramadhani
Kita adalah dua orang asing
Terjebak dalam satu payung yang sama
Bukan karena cinta yang indah atau takdir disengaja
Tapi hanya karena takut pada basah yang merundung raga lebih lama
Kau bicara tentang masa depan yang seharum bunga mawar
Tentang gedung tinggi dan mimpi yang berpijar
Sedangkan aku? Aku hanya sibuk menghitung retak di trotoar
Menunggu genangan air tenang dan berhenti bergetar
Sebab seringkali, kita lebih memilih berpura-pura searah
Daripada harus basah kuyup mencari jalan pulang yang memang berbeda
Ternyata…
Teduhmu adalah penjara yang terlalu rapi
Disusun dari kalimat manis yang tak pernah punya hati
Dan raksasaku adalah dewa yang sedang bersembunyi
Mendekam dalam diam, menjaga agar badai tak pecah lagi
Di ujung hari, kita hanyalah serpihan yang tak akan pernah utuh
Beradu dalam sunyi, namun enggan untuk berlabuh
Kita hanya menunggu hujan reda, sebelum akhirnya kembali ke arah yang berbeda
Tanpa pernah benar benar bertanya : siapa kita?