PERJALANAN YANG TAK LAGI MEMUAT NAMAMU

 Perjalanan Yang Tak Lagi Memuat Namamu
oleh: NurBunga

Nanti, di sebuah titik yang bahkan belum sempat kita bayangkan,
aku akan melangkah ke arah yang tak lagi memuat bayangmu.
Jalan itu asing, sunyi, dan mungkin terlalu luas
untuk seseorang yang pernah terbiasa berjalan berdampingan.
Namun sebelum benar-benar pergi,
izinkan aku tinggal sejenak di batas terakhir ini
di ambang yang mempertemukan aku yang dulu, dan aku yang akan pergi.

Aku tidak meminta banyak,
hanya waktu yang tak perlu panjang
hanya jeda yang tak perlu abadi.
Biarkan aku melihatmu tanpa peran, tanpa pura-pura,
tanpa harus menundukkan mata seolah tak pernah mengenalmu.
Biarkan pandanganku jujur sekali lagi,
sejujur dulu ketika namamu masih menjadi rumah
bagi segala hal yang tak ingin aku lepaskan.

Aku ingin mengingatmu dengan utuh
senyum hangat yang tak pernah benar-benar sederhana,
rambutmu yang selalu mudah kukenali di antara banyak kepala,
matamu yang teduh, tempat segala lelahku pernah reda.
Suaramu, yang entah mengapa selalu membuat waktu terasa lunak,
dan gerak-gerik kecilmu itu
yang diam-diam mengajarkanku bagaimana rasanya ingin tinggal lebih lama
di sesuatu yang tak bisa dimiliki selamanya.

Aku tidak akan berbicara,
tidak akan memanggil, tidak akan mendekat.
Aku hanya ingin melihat
sebagai seseorang yang pernah ada
tanpa perlu diakui keberadaannya.
Mungkin hanya satu detik dari dua puluh empat jam,
namun di detik itu,
biarkan aku menjadi seseorang yang masih mengenalmu
tanpa harus berpura-pura menjadi asing.

Lalu setelah itu, aku akan benar-benar pergi.
Menyusuri jalan yang bahkan tak pernah kau dengar ceritanya,
mengejar mimpi yang tak pernah sempat kau ketahui bentuknya.
Dan kau pun akan melangkah ke arahmu sendiri,
menuju sesuatu yang tak pernah melibatkan namaku di dalamnya.
Kita akan menjadi dua cerita
yang berjalan sejajar tanpa pernah lagi saling menyentuh.

Apakah nanti kita akan benar-benar asing?
Tak lagi tahu di mana satu sama lain berdiri,
tak lagi menemukan jejak dalam kehidupan masing-masing.
Atau mungkin, kita hanya akan menjadi kenangan
yang sesekali datang tanpa diundang,
Lalu pergi tanpa sempat disapa.

Jika memang itu akhirnya,
aku tidak akan meminta apa-apa lagi.
Hanya doa yang diam-diam akan selalu menyertaimu

Semoga langkahmu dijaga,
jalanmu dipermudah,
hatimu dipenuhi hangat yang tak pernah kekurangan.
Dan di tempat yang berbeda,
aku pun akan belajar mendoakan diriku sendiri
dengan cara yang sama.

with love, bunga