Rumah yang Masih Berdiri, Tapi Tidak Lagi Dihuni Kejujuran
Oleh: Moch. Sidqi Kasyfu D.
Rumah seharusnya menjadi tempat paling jujur.
Tempat di mana seseorang bisa pulang tanpa perlu menyembunyikan apa pun.
Namun, tidak semua rumah memiliki kejujuran yang sama.
Ada rumah yang tetap berdiri kokoh dari luar atapnya utuh, dindingnya tegak, pintunya masih terbuka.
Tetapi di dalamnya, ada sesuatu yang perlahan hilang. Bukan benda, bukan suara, melainkan rasa percaya yang menguap tanpa pernah benar-benar dijelaskan.
Aku tinggal di rumah seperti itu.
Tidak ada pengumuman, tidak ada percakapan panjang yang menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Semuanya berjalan seperti biasa, tetapi terasa berbeda. Ada jarak yang tidak terlihat, ada perubahan yang tidak pernah diakui.
Lalu, pada suatu titik, kebenaran itu tidak lagi bisa disembunyikan.
Bukan sekadar kesalahpahaman kecil, melainkan kenyataan yang selama ini disusun rapi dalam diam.
Sebuah kehidupan lain yang berjalan beriringan, seolah dua dunia bisa berdampingan tanpa saling
bersinggungan.
Yang membuatku terdiam bukan hanya tentang apa yang terjadi, tetapi bagaimana semuanya bisa
berlangsung tanpa satu pun dari kami benar-benar dianggap perlu tahu.
Sejak saat itu, rumah ini tidak lagi terasa sama.
Ada hari-hari di mana kebutuhan harus ditahan, keinginan harus disederhanakan, dan keadaan harus
diterima apa adanya. Namun di sisi lain, ada kenyataan bahwa di tempat berbeda, kehidupan berjalan
dengan cara yang jauh lebih ringan.
Perbandingan itu tidak pernah diminta, tetapi terasa begitu nyata.
Aku pernah mencoba meluapkan semuanya. Emosi yang selama ini dipendam akhirnya pecah, keluar
tanpa arah dan tanpa kendali. Suasana menjadi panas, kata-kata melukai, dan untuk sesaat, aku kehilangan versi terbaik dari diriku sendiri.
Setelahnya, yang tersisa hanyalah lelah.
Lelah memahami sesuatu yang tidak pernah dijelaskan.
Lelah menerima sesuatu yang tidak pernah diminta.
Dan lelah berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Yang lebih membingungkan, tidak semua orang melihat ini sebagai sesuatu yang salah. Ada yang
memilih diam, ada pula yang seolah bisa menerima keadaan tanpa banyak pertanyaan.
Di situlah aku mengerti, bahwa kebenaran tidak selalu berdiri di tempat yang sama bagi setiap orang.
Aku tidak lagi punya banyak cara untuk meluapkan apa yang kurasakan. Kadang hanya lewat kalimat-
kalimat singkat yang tidak pernah benar-benar menjelaskan isi hati, tetapi cukup untuk sedikit mengurangi sesak.
Sementara itu, kehidupan di rumah tetap berjalan.
Percakapan yang ada sering kali tidak lagi tentang perasaan, melainkan hal-hal yang terasa lebih dangkal tentang kepentingan, tentang apa yang pernah diberikan, tentang hal-hal yang seolah bisa menggantikan kejujuran yang hilang.
Ada juga momen di mana aku diposisikan sebagai pihak yang salah.
Seolah menjaga diri sendiri adalah bentuk perlawanan.
Seolah diam adalah bentuk ketidakpatuhan.
Di titik itu, aku berhenti mencoba menjelaskan.
Bukan karena tidak peduli, tetapi karena aku mulai mengerti bahwa tidak semua hal bisa diselesaikan
dengan kata-kata.
Aku memilih mundur sedikit demi sedikit.
Mengurangi percakapan.
Membatasi ruang.
Dan yang paling sulit menjaga hatiku agar tidak terus berharap.
Di tengah semua ini, hidup tetap berjalan. Aku masih harus menjalani hari sebagai mahasiswa, masih
harus terlihat baik-baik saja di luar, meskipun di dalam, banyak hal yang belum selesai.
Beruntung, aku tidak sepenuhnya sendiri. Masih ada tangan yang membantu, masih ada bahu yang bisa
diandalkan. Di tengah situasi yang tidak ideal, aku belajar bahwa dukungan tidak selalu datang dari
semua arah cukup dari satu atau dua yang benar-benar tulus.
Kadang aku bertanya,
apakah sebuah rumah masih bisa disebut rumah jika kejujuran tidak lagi tinggal di dalamnya?
Aku tidak selalu punya jawabannya.
Namun aku mulai memahami satu hal
Tidak semua yang retak harus langsung diperbaiki.
Tidak semua yang hilang bisa kembali seperti semula.
Dan tidak semua yang kita harapkan akan berjalan sesuai dengan yang kita inginkan.
Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah menjaga diriku sendiri,
agar tidak ikut hilang di dalam keadaan yang tidak lagi utuh.
Karena pada akhirnya,
di rumah yang masih berdiri ini,
aku sedang belajar menerima bahwa tidak semua hal bisa dipertahankan
termasuk rasa percaya yang pernah ada.
Dan mungkin, suatu hari nanti,
rumah ini akan tetap terlihat sama di mata orang lain
utuh, tenang, dan baik-baik saja.
Namun hanya aku yang tahu,
bahwa sejak kejujuran itu pergi tanpa pamit,
tidak ada yang benar-benar tinggal di dalamnya lagi
selain kenangan yang perlahan belajar untuk tidak berharap pulang.