Aku Menjahit Fajar dengan Sunyi
Oleh: Muhammad Rifki Febriawan
Aku menjahit fajar dengan benang sunyi,
agar pagi tak datang dalam luka.
Kusimpan embun di lipatan hati,
supaya dunia belajar lembut kembali.
Langit kutulis dengan tinta rindu,
burung-burung membacanya sambil terbang.
Angin membawa kabar dari waktu,
bahwa kehilangan pun bisa pulang.
Di jalan sepi kutanam cahaya,
meski malam sering meminjam nyali.
Sebab harapan tak pernah binasa,
ia hanya bersembunyi di dada sendiri.
Jika suatu hari kau merasa runtuh,
datanglah pada senja yang kupelihara.
Di sana ada doa yang tumbuh,
dan cinta yang tak pernah meminta suara.