Perempuan di Kursi Belakang

 Perempuan di Kursi Belakang 

Oleh: Diva


“ Mama, apa bisnya masih lama ya? Ayu kedinginan nih “

“ Sabar ya sayang, sebentar lagi kok bisnya sampe, “ ucapku pada anakku. Berusaha memberi ketenangan di tengah suasana sunyinya halte tua di pinggir jalanan ini.

Anakku hanya mengangguk pelan dengan gelisah yang masih menghiasi wajahnya. Ia mengembus napas lelah. Lalu pandangan matanya dilontarkan ke arah ujung jalanan yang gelap tanpa cahaya penerangan yang berarti. satu-satunya cahaya hanya berasal dari lampu jalan yang sedikit redup. Selebihnya, hanya kegelapan yang menemani kami berdua.

Perkenalkan namaku Ratna dan anakku Ayu, kami adalah dua orang yang sedang menunggu transportasi umum di sebuah halte di sisi jalan antar provinsi. Jalan yang biasanya ramai oleh beberapa kendaraan yang berseliweran, anehnya malam ini nampak sepi. Hanya ada beberapa kendaraan ya terlihat hilir-mudik, itupun cuman kendaraan bermotor. 

Selebihnya, hening. Hening yang membuat bulu kuduk meremang.

Kami berdua masih setia menunggu kedatangan kendaraan yang biasa mengantar kami ke tempat tujuan.

“ kok engga biasanya ya bis jurusan wilayah Y dateng telat? Apa udah kemalaman ya? Ah ga mungkin, pukul masih menunjukan angka 9 malam, belum cukup larut, “ gumamku sambil menatap layar hp ku. Terlihat juga beberapa pesan masuk dari ibuku di kampung, yang menanyakan kabar perjalananku dan Ayu.

Aku sigap membalas pesan dari ibuku. Memberi kabar kepadanya jika minibus yang biasa kami tumpangi belum datang.

Setelah membalas pesan, aku kembali menatap jalanan gelap nan hening di depanku. Terdiam dengan bola mata yang lurus melihat ke arah jalanan yang gelap.

Hening terasa sangat membuat hati tak nyaman. Pikiran untuk membatalkan perjalanan menuju kampung halaman ibu terlintas dalam pikiran. Namun urung ketika aku mengingat kondisi bapak yang sekarang tengah sakit keras.

Angin dingin menyapu jalanan. Menerbangkan dedaunan, menggoyangkan pepohonan juga membuatku dan Ayu menggigil menahan dingin. Kueratkan pelukanku pada Ayu, berusaha mencegah hawa dingin itu menyusup masuk ke tubuh anakku.

“ Mama, Ayu mau pulang aja, dingin..., “ ucap lirih Ayu dengan wajah sedikit menggigil.

Ucapan Ayu berhasil merobohkan benteng terakhir dalam hatiku, juga membuat diriku bimbang. Jika aku memilih pulang sekarang, lantas bagaimana dengan kondisi bapak yang kata ibu penyakitnya kembali kambuh. Bahkan menurut ibu, bapak sampai mengingau menyebut-nyebut namaku.

Di sisi lain, malam ini beranjak kian larut dan aku khawatir dengan keadaan Ayu yang kedinginan.

Di tengah rasa bingungku dengan situasi ini, dari arah kanan menyorot sebuah cahaya kekuningan yang langsung menarik perhatianku.

Aku menoleh dan melihat sebuah minibus tua dengan corak yang sudah kukenal meluncur pelan ke arahku.

Minibus yang kutunggu-tunggu sejak tadi sekarang telah ada di depanku. Melihat itu aku tersenyum lega. Penantianku selama ini menunggu minibus yang sudah menjadi langgananku akhirnya tercapai.

Pintu minibus perlahan terbuka, lebih tepatnya dibuka oleh seseorang yang sudah kukenal.

“ Pak Harto “ kataku kepada seorang kenek minibus berjenggot tipis.

“ Mbak Ratna, maaf menunggu lama ya, “

Senyum kecil tercipta dari bibir kering Pak Harto, supir minibus yang aku kenal sebab masih satu kampung denganku. Aku hanya mengangguk dan menjawab seperlunya, lalu segera bergegas masuk ke dalam minibus.

Pintu minibus kembali tertutup dan minibus dengan perlahan kembali melaju melanjutkan perjalanan.

Sepanjang jalan, lebat hutan seolah menjadi pemandangan yang biasa kulihat. Jajaran pohon yang besar nan tinggi berdiri rapat di kanan dan kiri jalan. Seolah mengurung minibus yang kini tengah melaju melintasi jalur hutan. Hutan gelap dengan pencahayaan satu-satunya berasal dari minibus ini.

“ ngomong-ngomong, kenapa datangnya agak telat pa? Biasanya jam delapan udah mangkal di halte? “ aku mengawali perbincangan. Kebetulan aku memilih kursi di bagian depan yang dekat dengan kursi supir.

Pak Harto, si supir menoleh sedikit ke arahku lalu menjawab.

“ tadi di jalan ada sedikit kemacetan mbak. Jadi ya terpaksa bapak nunggu dulu antrean kendaraan, “ kata Pak Harto menoleh sedikit ke arahku. 

“ macet di jalan selo ancang pak? “

Pak Harto mengangguk pelan, “ enggih mbak, di jalan selo ancang. Tadi macet parah, untungnya si mbaknya masih keburu dijemput, “ tukas Pak Harto.

“ ada apa emangnya pa di jalan selo ancang? Kaya ga biasanya jalan itu mengalami kemacetan? “ aku masih dilanda rasa penasaran dengan cerita yang dituturkan oleh Pak Harto.

Minibus melaju melewati jalan penuh lubang. Membuat kendaraan ini sedikit bergoyang pelan. Malam kian larut. Aku melihat handphone sekilas, pukul menunjukan angka 10 malam.

“ tadi...di jalan selo ancang..., “ Pak Harto menjelaskan kalimatnya dengan wajah sedikit tegang. Jakunnya naik-turun dan wajahnya sedikit berkeringat. Pak Harto memandang lurus ke depan.

“ tadi kenapa pa? “ aku masih menunggu sambungan kalimatnya yang terputus tadi.

“ ter– “

“ MAMA! “

Aku menoleh kaget ke arah belakang ketika suara Ayu terdengar keras memanggilku. Beberapa penumpang bus juga ikut menoleh. Mungkin tidur mereka terganggu oleh suara cempreng dari anakku.

Astaga Ayu! Kenapa dia ada barisan jok belakang? Sejak kapan Ayu pindah dari kursi depan di sebelahku?

“ Ayu kamu ngapain disana! “ tegurku sedikit kesal pada bocah berjaket pink itu. Selain itu, aku merasa sedikit aneh melihat Ayu yang tiba-tiba berpindah ke bagian belakang.

Penumpang di minibus ini berjumlah sedikit bisa dihitung jari dan sebagiannya menempati deretan kursi di bagian depan dan tengah. Sedangkan di bagian belakang kosong kecuali Ayu yang tengah berdiri sendiri memandang ke arahku.

Ayu diam dengan sorot mata yang aneh. Aku masih memandang ke arahnya dengan wajah penuh tanda tanya. Ayu, sedang apa sebenarnya anak itu?

“ Ma, sini ma, ini Mbak Arum katanya nanyain mama, “ cetus anak berusia sepuluh tahun itu dengan nada memanggil ke arahku.

Mbak Arum? Apa aku ga salah denger? Ngapain dia di minibus ini? Dan sejak kapan dia ada disini?

Mbak Arum adalah nama dari tetangga sebelah rumahku. Perempuan yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh laundry itu cukup dekat denganku. Mbak Arum sudah kuanggap saudariku sendiri.

Perempuan yatim piatu yang hidup dengan rasa sepi karena kematian suaminya dua tahun silam adalah wujud dari ketegaran dan kesetiaan seorang istri.

Dan sekarang Ayu bilang jika Mbak Arum ada di minibus ini. Jika itu benar, Kiranya hendak kemana dia? Enggak biasanya Mbak Arum bepergian apalagi malam larut seperti ini.

“ Mama..., sini, Mbak Arum mau bilang sesuatu ama mama, “ kata Ayu yang langsung membubarkan pikiranku.

Kulihat Ayu melambai tangan menyuruhku mendekatinya.

Lampu di minibus yang menyala remang, membuat pandangan terasa samar melihat kesekitar. Penumpang lain kulihat tidur terlelap. Hanya aku yang terjaga dan tentunya Pak Harto.

Karena dipicu oleh rasa cemas dengan Ayu yang ada di belakang, aku berniat untuk menghampiri anak itu.

Entah Mbak Arum yang mana yang Ayu katakan, karena jujur aku tak melihat siapa-siapa di bangku belakang. Hanya Ayu yang terlihat tengah duduk sendirian di kursi bagian kiri. Kursi paling belakang.

Ayu terlihat mengangguk-angguk dan tertawa kecil, seakan ada teman ngobrol di sampingnya. Padahal jelas dia hanya sendiri.

“ tuh anak lagi ngapain sih sebenarnya? “ gumamku merasa aneh melihat Ayu.

“ sini ma, Mbak Arum nanyain mama, “ Ayu melambai kepadaku seolah menyuruhku untuk mendekatinya.

Ketika aku hendak mendekati Ayu, suara Pak Harto yang sejak tadi diam kembali berbunyi. 

“ T-tunggu Mbak Ratna! “ Pak Harto tiba-tiba mencegahku dengan suara yang tercekat dan sedikit gugup.

Aku menoleh pada Pak Harto lalu bertanya.

“ Ada apa pak? “

Pak Harto tak lantas menjawab. Kulihat dirinya nampak tegang entah karena apa.

“ pak sampean kenapa? “ tanyaku.

Pak Harto berdehem pelan berusaha menghilangkan rona gusar dari wajahnya. Ia menghela napas panjang, seakan tengah membuang beban berat dari dadanya.

“ Mbak Ratna...ada hal yang mau bapa sampaikan ama mbaknya, ini penting, “ tanpa mengalihkan pandangan dari jalan di depan, Pak Harto berucap kepadaku. Wajahnya kian tegang dengan lirikan mata yang sesekali melihat ke arah kaca spion belakang.

Pak Harto berkeringat dingin dengan mata melotot. Dia seperti melihat sesuatu yang mengerikan di belakang kursi.

Kulihat Ayu di belakang dan...anak itu makin aneh. Samar-samar juga aku melihat sebuah siluet seseorang di sebelah Ayu.

Astaga apa lagi itu? Kenapa semua ini seolah terlihat janggal. Hawa di minibus juga terasa sangat dingin. Aku mengusap tengkukku. Firasat tak nyaman mulai bermunculan seperti buih. ditambah

Pak Harto berkata yang tidak jelas.

“ ada apa lagi pak? Cepet katakan, jangan buat saya tambah takut, “ desakku.

“ mbak, sampean harus denger kelanjutan cerita saya tadi, ketika saya terjebak macet di jalan selo ancang, “ kata Pak Harto dengan nada terbata-bata.

Aku diam mendengarkan cerita Pak Harto, sambil mataku tetap mengawasi Ayu yang terlihat tengah berbicara entah dengan siapa.

“ ternyata penyebab macet itu terjadi karena adanya sebuah kecelakaan di jalan, “

“ Kecelakaan? “

Pak Harto mengangguk pelan.

“ Iya, kecelakaan yang menewaskan seorang perempuan. Sepertinya karena tertabrak oleh sebuah truk hingga membuat sebagian tubuhnya remuk, “ ucap Pak Harto.

Aku bergidik mendengar cerita Pak Harto. Lalu apa maksudnya dia bercerita demikian kepadaku?

“ Dan apa mbak tau siapa perempuan yang tewas kecelakaan itu? “ Pak Harto bertanya kepadaku dengan nada yang masih sama seperti tadi. Takut bercampur gelisah.

Aku menggeleng dengan wajah tegang. Melihat Pak Harto berekspresi seperti itu membawa semacam kegelisahan tak wajar. Dadaku berdegup kencang.

“ perempuan itu ternyata... Mbak Arum, “ bisik Pak Harto dengan mata yang tertuju pada sudut kursi belakang.

DEG!

“ HAHAH, Lucu banget mbak..., “

Aku dan Pak Harto terkejut mendengar Ayu tertawa terbahak dari belakang.

Belum selesai aku dengan rasa kagetku mendengar keterangan dari pak harto, aku kembali dibuat tak percaya begitu melihat ke tempat Ayu berada.

Sosok itu duduk di samping Ayu. Sosok yang tadi samar sekarang memperlihatkan wujud aslinya.

Ada seorang wanita dengan pakaian berwarna biru lusuh dengan rambut menutupi sebagian wajahnya sedang duduk di sebelah Ayu. Tangan kurus panjangnya membelai rambut Ayu dengan lembut. Namun bukan itu yang membuatku terdiam dengan mata melotot.

Wanita itu aku kenal wanita itu...tidak salah lagi, itu adalah Mbak Arum tapi dengan wujud yang berdarah-darah. Sebelah wajahnya hancur dan meneteskan banyak darah.

Astaga ya tuhan Ayu!

Khi...khi...khi...


TAMAT