Dark Desire Painting
Oleh : Septi Siti Ramadhani
Pikiran Kamya melayang, memikirkan hal yang liar. Ia berpikir bahwa dirinya hendak dijual atau ada yang lebih parah mungkin disembelih dan dijual organ dalam tubuhnya. Kamya merinding mengenyahkan pemikiran tersebut. Meski begitu pikirannya benar benar tak bisa berpikir secara positif lagi.
Kamya berputar-putar ditempat itu mencari cara untuk keluar dari tempat terkutuk itu. Bingung. Tapi tekadnya mendorong untuk kabur. Melihat enam perempuan lain yang menangis membuatnya berdecak.
“Apa mereka hanya bisa menangis?”
Kamya memutar otaknya, ia bersembunyi dibalik tumpukan palet kayu diruangan itu. Saat pintu sedikit terbuka Khansa mengendap-endap. Keluar dengan hati-hati membawa debar jantungnya yang berisik.
Kamya menahan napasnya saat satu orang lelaki datang dari depan. Membawa senjata lengkap. Pakaiannya serba hitam. Ia bersembunyi dibalik pilar- pilar besar yang muat menutupi tubuhnya. Saat lelaki itu berlalu, Kamya segera berlari. Tunggang langgang. Tak tahu arah. Karena terlalu fokus kebelakang Kamya sampai tak sadar tubuhnya menghantam sesuatu. Lelaki besar. Membuat tubuhnya terpelanting ke tanah. Ia meringis.
Lelaki besar itu segera membawa Kamya pergi dan melemparnya kedalam ruangan. Kamya memeluk lututnya, menangis disana. Tak tahu harus berbuat apa. Apalagi saat pintu itu ditutup rapat. Tak ada celah sedikitpun. Ruangan pengap ini hanya ada satu lampu temaram. Membuatnya takut.
“Arghhh…” suara ringisan seseorang membuatnya sadar.
Ia mendongkak, menatap seseorang yang duduk disudut ruangan. Kaki dan tangannya terikat. Nampak payah.
“He-hei? Kamu orang jahat bukan?” tanya Kamya takut. Karena hanya ada mereka berdua disini.
Lelaki itu mendongak, netra tajamnya berpandangan dengan netra Kamya yang membulat. Terkejut.
Dari sekian banyak cara pertemuan,kenapa harus dengan cara seperti ini? Kamya membatin resah.
“Komandan?”
“ Kam-ya?” Lirih Khabumi. Nyaris tak terdengar. Namun sudut bibirnya terangkat. Rasa rindunya seakan menguap. Jujur. Khabumi merindukan perempuan itu. Sangat rindu.
Kamya buru-buru mendekat, memastikan benarkah lelaki itu adalah komandan yang ia kenal. “Komandan?” cicitnya. Melihat wajah Khabumi yang nampak babak belur. Tubuhnya lebih kurus. Kamya memindai dengan seksama.
“Ngapain ada disini?” tanya Kamya.
“Kamu sendiri ngapain disini? Tamasya?” Khabumi bertanya balik, lirih.
Masih menyebalkan menurut Kamya. Ia berdecak. Namun, bibirnya bergetar. Ia menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Menangis.
“Dasar cengeng”
Kamya mendelik, mendengar suara serak itu yang lirih mengejeknya. Namun Kamya juga iba, ia membantu melepaskan ikatan dikaki dan tangan lelaki itu. Lalu mengusap kedua netranya. Menghalau tangis.
“Komandan…” Kamya berucap lirih. Sungguh ia iba.
Tatapan perempuan itu membuat Khabumi melengos, jantungnya masih sama debarnya. Tak berubah. Padahal hampir setahun tak berjumpa. Setelah pertemuan itu. Ingatan Khabumi tiba-tiba melayang ke belakang, merangkum memori pertemuan pertama mereka malam itu. Lajur jalan dua arah, dari arah sebaliknya. Khabumi si pengendara mobil hitam, body mobilnya sedikit ceper. Namun terlihat sangat laki. Orang menyebutnya, mazda. Perempuan disebrang jalan mencuri perhatiannya sejak tadi. Perempuan yang tengah tersenyum lebar nampak terlihat sangat manis dalam pandangannya, seperti ditambah berpuluh-puluh kilo gula.
Netra tajam Khabumi yang jeli seolah tak berkedip, apalagi kala tawa tanpa terdengar suara itu mengudara. Saat itu rasanya seperti sebuah renjana yang menggebu. Rasa yang sangat. Entah, jantungnya tiba-tiba tergelitik untuk berdebar lebih kencang, bingung sendiri. Rasanya waktu seperti berhenti berjalan. Padahal perempuan yang memenuhi isi kepalanya ini sudah bangkit, seiring kain pita hitamnya yang bangkit terbawa angin.
Entah karena ingin menolong atau ada maksud lain, saat itu Khabumi dengan cepat menutup kaca mobilnya, mencari celah jalan untuk berputar arah. Ia membawa laju mobilnya kencang. Mengejar perempuan yang sedang mendorong motor yang tampak kebesaran dari pada tubuhnya. Lucu. Hati kecilnya menjerit. Terpesona? Apakah perempuan yang malam itu ia selamatkan dari jalanan sepi, lalu ia antar pulang layaknya seorang pangeran berkuda putih, telah diam-diam mencuri hati Khabumi sejak pertemuan pertama mereka?
Khabumi terperanjat, tersadar dari lamunannya saat tiba-tiba Kamya memeluknya. Tubuh perempuan itu bergetar ketakutan.
Tangan Khabumi melayang diudara, ingin membalas namun urung. Ia hanya menyandarkan pipinya diatas kepala perempuan itu. Satu hal yang sama. Ternyata perempuan itu masih sama. Selalu menggunakan kain pita diatas kepalanya. Tak pernah berubah.
Kamya menangis tersedu disana, memeluk lelaki yang dikenalnya dengan erat. Kamya pikir bersama dengan Khabumi akan lebih aman. Terlebih lelaki itu adalah seorang aparat.
“Aya...” panggilnya, lirih
“Takut, ndan..” cicit Kamya, masih menangis
“Sejak kapan kamu suka peluk-peluk saya?”
Buk!
Dada Khabumi dipukul keras, lelaki itu meringis. Seperti kesakitan. Tidak biasanya.
“Eh? Ndan, kenapa?”
Khabumi menggeleng, Kamya menatap netra lelaki itu. Netra tajamnya sayu, luka lebam di kelopak matanya, sudut bibirnya mebiru, pelipisnya terdapat darah kering. Sangat memprihatinkan. Kamya menangkup wajah itu, membuat Khabumi mendongkak, menatapnya sayu. Netranya bercahaya berkaca kaca. Memelas.
Kamya menarik tangannya, cepat. Tak sadar Kamya menangis lagi, bukan menangisi Khabumi. Tapi menangisi dirinya sendiri. Sepertinya kesempatan untuk kabur dan bebas hanya nol persen. Kamya belum siap mati ditempat ini.
Tangan Khabumi yang gemetar naik, menangkup pipi Kamya, mengusap pelan pipi itu dengan ibu jarinya. Menghalau tetes air mata.
“Jangan nangis,” ujarnya, kali ini suara serak itu lembut. Sangat lembut.
DOR!
DOR!
Kamya langsung menubruk tubuh lelaki itu, tubuhnya bergetar hebat. Bunyi letusan senjata terasa membombardir jantungnya. Degupnya berubah sangat kencang, berikut degup jantung Khabumi yang juga kencang. Namun, dengan alasan yang berbeda.
Khabumi hendak bangkit, tertatih.
“Ndan...” Kamya mencicit takut. Memeluk erat pinggang lelaki itu. Menggeleng didadanya.
“Kita harus kabur, Ay.”
Kamya mendongak, bertatap mata dengan lelaki itu. Khabumi tersenyum tipis. Mengangguk. Meyakinkan. Mereka berjalan pada pintu baja setinggi dua meter itu.
DOR!
DOR!
Pintu baja di depan mereka dihantam peluru dari luar. Khabumi yang lengannya sudah terluka akibat siksaan sebelumnya, langsung meraih senjata api milik salah satu penjaga yang sempat ia lumpuhkan sebelum diikat dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya tak henti menggenggam tangan Kamya erat dibelakang tubuhnya. Dua orang pria berbadan besar merangsek masuk dengan senjata teracung. Insting sang abdi negara bergejolak. Tidak ada ruang untuk negosiasi bagi Khabumi, para penjahat yang mengancam nyawa warga sipil dan negaranya memang berhak mati.
DOR!DOR!
Dua tembakan presisi dilepaskan Khabumi tepat sasaran. Kedua pria itu ambruk bersimbah darah di lantai semen. Kamya yang melihat itu tak tega. Menutup matanya “Ikuti saya Aya!Jangan lepas!” seru Khabumi semakin mengeratkan genggaman tangannya.
Mereka menerobos keluar melalui pintu samping rumah, melewati koridor yang bising oleh kepanikan anak buah mafia lainnya. Khabumi menjadikan tubuhnya sebagai tameng hidup. Beberapa peluru sempat menggores bahu dan pinggangnya membuat seragammnya kian basah oleh anyir darah segar yang berlumuran, namun ia menolak tumbang. Mereka terus berlari, menembus batas halaman rumput hingga akhirnya berhasil merangsek masuk ke dalam lebatnya tengah hutan. Langkah kaki mereka terseok-seok di atas tanah gembur dan ranting kering. Khabumi mendadak menghentikan langkahnya di bawah rimbun pohon rimba. Tubuhnya limbung, bersandar pada batang pohon besar dengan dada naik turun menahan perih. Darah mengalir deras dari luka-lukanya, membasahi jemari Kamya yang sejak tadi menggenggam erat.
….
“Menurut informasi intelejen, sepertinya Lettu Khabumi masih hidup, Panglima.”
Lelaki besar, Panglima Langit menatap Kolonel Ambara tajam. “Cari, dan pastikan pilot kita baik-baik saja.”
Menurut informasi intelejen, kemungkinan Khabumi masih hidup. Sedikit bukti, parasut lelaki itu ditemukan tersangkut pada pohon besar. Kemungkinan terburuknya, salah satu pilot penerbang kebanggaan itu disandera ditawan musuh.
“Opreasi pencarian akan segera dilakukan, Letnan. Bersiaplah.”
….
Hanya satu jam terlelap, Khabumi kembali membuka netra. Kamya menyambutnya, memberi senyum getir. Tak tega melihat darah yang terus mengalir di lengan Khabumi walaupun sudah dibalut seadanya. Di sela-sela rimbunnya hutan, suara helikopter penyelamat kian menderu mendekat, membelah malam kelam dan mengevakuasi mereka dai ujung maut.
Satu Tahun Berlalu…
Khabumi terbangun di sebuah ruangan serba putih yang asing. Bau karbol menyengat indra penciumannya. Tidak ada hutan, tidak ada markas, dan tidak ada helicopter militer. Ia menoleh ke samping di balik jendela kaca besar, seorang dokter jiwa sedang berbicara dengan Kolonel Amara.
“Lettu Khabumi masih terjebak dalam halusinasinya, Kolonel,” ucap dokter itu samar-samar.
“Sejak pesawat tempurnya jatuh setahun lalu dan ia disandera musuh di hutan. Otaknya menciptakan mekanisme pertahanan diri yang ekstrem untuk mengatasi rasa sakit akibat siksaan.”
Khabumi tertegun. Ia menatap tangannya sendiri penuh luka sayatan dan tusukan yang sudah mongering. Di sudut ruangan kamar rawatnya, berdiri sebuah papan kanvas besar . Khabumi melangkah tertatih mendekatinya. Lukisan di atas kanvas itu sangat berantakan, didominasi warna hitam legam yang mengerikan, berpadu dengan sapuan-sapuan kasar cairan merah maroon pekat yang tak lain adalah darahnya sendiri yang ia goreskan menggunakan jemarinya selama mendekam di rumah sakit jiwa ini. Di tengah lukisan itu, tampak siluet samar seorang wanita berhijab dengan pita hitam yang sedang memeluknya erat.
Kamya tidak pernah ada. Sosok jurnalis manis dengan kain pita hitam di belakang kepalanya hanyalah manifestasi dari hasrat terdalam jiwanya yang kesepian dan sekarat. Sebuah ilusi yang diciptakan otaknya agar ia merasa punya alasan untuk bertahan hidup di tengah siksaan musuh. Pertemuan pertama di pinggir jalan saat motor gadis kecil itu mogok, pelukan hangat di tengah hutan hanyalah skenario indah yang ia lukis sendiri dalam kepalanya. Pintu kamar terbuka, Seseorang masuk membawa nampan obat. Khabumi menoleh matanya membulat. Wanita itu mirip seperti Kamya.
“Waktunya minum obat, Lettu Khabumi.” Sapa perawat itu ramah.
Wajah dan tubuh mungilnya persis seperti ilusi yang ada dalam benaknya. Namun, saat perawat itu berbalik, Khabumi tertegun, tidak ada hijab, apalagi seutas pita hitam yang menjuntai di belakang hijabnya.
“Terima kasih… Aya,” bisik Khabumi lirih, menerima obat seraya menatap nanar kepergian perawat itu.