Keruh

 Keruh 
Oleh: alanandrm

    Sulung bukan sebuah gelar, namun pikulan tanggung jawabnya setara dengan tingkat kesulitan mendapatkan sebuah gelar bahkan mungkin lebih berat. Hidup bening selalu terapal dalam gumaman doaku tapi tuhan malah memberi keruh sebagai bagian dari hidupku. Satu windu lebih kejadian itu sudah berlalu, hingga hari ini aku masih belum bisa memaafkan baik kejadiannya maupun tokoh  didalamnya. Bohong jika aku mengatakan aku tidak takut, aku masih ingat betul hujan serapah yang harus aku telan pada saat itu, aku masih ingat betul doa buruk bahkan harapan hina yang mereka panjatkan untukku. Di hari itu aku sendirian, tidak tahu hal apa yang sedang terjadi, semua orang hanya melabeli bahwa perempuan yang melahirkanku sudah membuat dosa besar. Seingatku, ia hanya pergi membawa bungsu dan berjanji akan menghubungiku melalui sambungan telfon. Aku percaya perempuan itu tidak mungkin berbohong, ia adalah tulang rusuk dalam ragaku mustahil kan jika ia menyakitiku? Kala itu tangisanku terasa perih, aku tidak mengerti namun seluruh bagian pada ragaku kian memanas, jiwaku seperti hilang. Semua orang memelukku, ucapan sayang dan belaian kasih banyak aku terima. Aku tahu itu tidak tulus, aku tahu ada tawa dibalik bela sungkawa yang mereka berikan, tapi aku terlalu kecil untuk bisa menyuarakan hal itu. Umurku baru sepuluh tahun sorakkan mana yang para dewasa itu akan percayai? Ya, aku tahu tidak akan ada. Bahkan aku rasa lelaki yang kusebut sebagai cinta pertamaku itu saja malah berlari kencang menjauhi gumpalan keruh yang menyelimuti ku. Setahun setelahnya aku bisa bicara, aku bertanya kepada lelaki itu hal apa yang membuat aku pantas untuk membayar semua dosa yang bukan aku lakukan. Ia hanya menjawab ‘bukan tugasmu untuk membayar dosa itu’. Aku tahu ia tak jujur, nyatanya desakkan amarah terus aku terima setiap harinya.. apakah itu bukan akibat dari dosa yang terbentuk setahun lalu?

    Tahun berikutnya lelaki itu membiarkan aku menemui perempuan yang sempat kusebut sebagai tulang rusuk, ia meminta aku untuk mencari jawaban atas pertanyaanku pada perempuan itu. Tak ada rasa sayang, tak ada rasa percaya, saat itu bahkan lidahku kelu melihat hidupnya yang sengsara. Aku marah, aku kecewa, aku sedih, aku tak terima mengapa ia tidak menemui Tuhan saja? Bagiku ia sudah membunuhku tepat di usiaku yang kesepuluh. Tapi tidak ada satu kata protes pun yang bisa kulayangkan pada perempuan itu. Aku iba, tubuhnya kurus sekali. Matanya sayu, ternyata ia bukan hanya membunuhku, ia membunuh hidupnya juga. Label bodoh mungkin pantas untuk menjadi panggilan baru perempuan itu? Ia menangis kencang raungannya berisik mengganggu, aku tak kasihan aku malah semakin marah. Bukankah ini yang ia iginkan? Mengapa ia menyesal. Ku lihat bungsu sudah tak kenal padaku, usianya baru empat tahun kurang. aku tak peduli, aku membencinya juga. Perempuan bodoh dan lelaki itu memperebutkan hak kepemilikkan atas si bungsu. Rasanya tak adil, mengapa tidak ada satu pun yang ingin memilikiku? mereka bahkan tidak pernah bertanya berapa banyak lebam yang masih aku rasakan pada hatiku. Tuhan bilang sebelum dilahirkan aku ditanya terlebih dahulu sanggup atau tidak atas garis hidup yang tuhan rencanakan. Ku rasa aku juga bodoh mengapa aku menyanggupi untuk lahir ditengah dua insan yang tidak menginginkanku.

    Sisanya aku hanya menjalani hidup karena aku masih hidup saja, tidak ada hal istimewa tidak ada yang aku sayang, tidak ada yang aku harapkan. Hanya bangun sekolah, menangis, makan, tertidur, lalu sekolah lagi. Bahkan semua temanku berangsur pergi, aku sangat ingin hidupku segera selesai, tapi tuhan malah terus menuliskan naskah untuk hidupku. Menjelang kelulusanku ibu guru meminta semua murid membawa ‘ayah’ dan ‘ibu’ ke sekolah. Aku bingung, itu apa?aku tak tahu, terlalu asing. Mengapa semua orang memilikinya? Sampai dirumah aku bertanya pada perempuan tua yang memberikku makan setiap hari ‘apakah ada sebuah ‘ayah’ atau sebuah ‘ibu’ yang bisa dibawa ke sekolahku?’ lalu perempuan tua itu menjawab ‘tidak ada’ sesuai dengan dugaanku, aku kan memang tidak memilikinya, mengapa aku masih bertanya. Tepat di hari kelulusanku aku datang seorang diri, jika kalian mengira lebam pada hatiku bertambah, kalian salah. Aku sudah tidak memiliki hati jadi semua sakitku ku pindahkan pada kedua lengan yang aku miliki. Satu goresan luka aku buat jika aku masih bisa membuka mata di pagi hari, lima goresan luka aku buat jika aku merasa gundah, sepuluh goresan aku buat jika aku sedang sedih. Jadi setiap harinya akan selalu ada goresan baru dilenganku. Suatu hari perempuan tua melihat semua goresanku, ia bertanya ‘mengapa tidak kau buat tepat dinadimu saja?’ aku tidak tahu nadi itu apa jadi aku tidak menghiraukannya. Keesokkan harinya lelaki yang sempat kusebut cinta pertamaku muncul, ia bilang ia sudah tahu perihal goresanku. Ia melarangku untuk membuatnya lagi. Aku mempertanyakan apa gantinya, ia bilang sebagai gantinya aku tidak perlu memanggilnya dengan sebutan ‘ayah’ lagi. Aku terheran, jadi sebuah ‘ayah’ yang sempat dipinta guruku adalah nama dari lelaki itu? bagiku itu lucu karena aku fikir ‘ayah’ itu bukan kata yang bagus dan pantas untuk menjadi nama lelaki itu. Jadi aku tidak memperdulikannya, lelaki itu menangis, ia bilang ia gagal, ia meminta maaf padaku atas kegagalannya. Aku tidak punya maaf mengapa ia selalu meminta itu lalu menghilang?

    Empat tahun setelanya aku memasuki sekolah menengah akhir, semakin banyak warna yang aku lihat pada teman temanku, tuhan mengapa aku tetap keruh?. Lenganku masih sama, banyak goresan luka. Aku menutupi itu dengan kain seragamku. Sialnya dihari kamis pada 2022 aku lupa untuk menutupi goresannya, sampai dirumah ada chat masuk dari seorang laki laki ia bertanya ‘maaf tangannya kenapa?’ ‘besok kalau sekolah dan butuh cerita ke aku aja’. Rasanya malu, aku tidak suka dikasihani seperti itu. Aku benci melihat orang lain menatap iba terhadapku. Kubenahi ulang, ku pelajari lagi bertahun tahun bagaimana caranya agar orang lain tidak perlu mengenalku. Ku buat nama baru, jauh berbeda dari yang orang kenal. Ku bentuk kebiasaan baru, ku cari bagaimana caranya bisa memiliki warna seperti orang lain. Iya, semuanya hanya sebuah karanganku untuk menghindari dikasihani. Aku menyadari lahir dari rahim seorang perempuan yang belum selesai dengan dirinya sendiri adalah malapetaka, dan hadir pada sela kehidupan lelaki dengan regulasi emosi yang tak layak adalah sebuah mara bahaya. Jadi yang perlu aku lakukan hanya membentuk diriku sendiri, membuat banyak ruang agar bisa kuisi warna, aku bersumpah akan menghilangkan keruhku sendiri. Dengan besarnya upayaku akan tetap ada secarik amarah yang aku simpan untuk perempuan bodoh dan lelaki itu meski aku tahu perempuan itu mungkin menyesal karena sudah menyeret paksa aku pada pilihan bodohnya, dan aku juga tahu lelaki itu merasa bersalah atas kobaran apinya yang terus membakarku. Pada saat itu aku merasa semuanya setimpal, dibayanganku jika sampai hidup ini selesai aku tetap diselimuti keruh, perempuan bodoh itu juga harus terus bergelut dengan penyesalannya dan lelaki itu wajib terperangkap oleh rasa bersalahnya.

    Aku menulis ini tepat tiga tahun setelah asumsi bodoh itu aku yakini, hari ini aku sudah berdamai baik dengan diriku, perempuan itu maupun lelaki itu. Aku memutuskan untuk memaafkan mereka. lebam dihatiku mungkin tetap ada, bekas goresan luka pada lenganku juga tidak benar benar hilang, namun setidaknya damai yang aku pilih bisa membantu memudarkan keruh yang aku punya. Aku harap entah esok atau lusa aku bisa memiliki warna cantik seperti yang teman temanku miliki.