Penyihir Hutan

 Penyihir Hutan

Oleh: Claudius

``Menurut legenda yang beredar di masyarakat, hutan itu menyimpan misteri yang mengerikan. Banyak cerita-cerita seram yang seharusnya tidak usah dibicarakan. Sebab, hutan itu konon mengetahui segalanya. Ada mata yang mengawasi dari balik rapatnya semak-semak dan akar belukar yang menjuntai. Menggeram dan mengawasi dengan seksama, siapa yang masuk ke hutan gelap itu, katanya akan hilang dan tak bisa kembali. Hutan itu menelan siapaun hidup-hidup.

Sehingga orang-orang pernah bilang, `` berhati-hatilah dengan setiap pohon yang berjajar kuat. Karena pohon-pohon itu kerap mengintai dari segala sisi.Dari tiap-tiap sudut hutan yang kelam yang jarang tersingkap oleh cahaya, ``

Dari yang gelap bahkan sampai ujung paling gelap, hutan itu menyimpan semuanya. Semua rahasia tentang kutukan, ketakutan, serta misteri yang tersembunyi dari mata awam. Bersiap mengincar jiwa-jiwa mereka yang kosong. ``

`` Hmmm, cerita yang cukup serem juga yah..., `` Satu suara muncul setelah cerita panjang itu berakhir, `` Tapi itu cuman berlaku buat mereka yang masih percaya takhayul, sedangkan gue enggal percaya ama hal begituan, `` Sambil terus memotong-motong kayu bakar dekat tungku api, Budi menoleh dengan sedikit sinis ke arah temannya, Tama.

Tama hanya berdecak kesal, bola matanya memutar dengan bosan melihat teman seperjuangannya malah terkesan meremehkan apa yang ia ceritakan.

Tentang hutan yang menyimpan kisahnya sendiri. Hutan di pinggiran desa tempatnya menetap. Tapi bukan tentang hutannya, melainkan apa yang ada di dalamnya.

`` Jangan ngomong gitu lu Bud, Lu mau digondol ama si penyihir? Apalagi malam ini kita mau berburu ke Alas Peteng sana kan. Gue gak mau gara-gara ucapan lu yang sompral itu, kita ketiban sial, `` Ancam Tama pada temannya yang malah terkekeh geli.

`` HAHAHA, lucu juga lu Tam, zaman sekarang masih percaya ama sihir-sihir dan cerita serem. Gue udah denger cerita tentang hutan itu dari warga kampung, dan...yapp, gue anggap semua itu cuman omong-kosong doang, `` Budi melayangkan kapak ke kayu terakhir. Setelah memastikan persediaan kayu bakar cukup banyak, Budi mengusap keringat di wajahnya.

Hari ini sungguh banyak pekerjaan yang melelahkan. Pria berusia dua puluh lima tahun bernama lengkap Pratama ini hanya menggelengkan kepala dengan pasrah. Dirinya sudah biasa menghadapi sikap angkuh dari kawannya ini. Satu hal yang terkadang membuat Tama sendiri tidak senang.

`` Ngomong-ngomong, semua perlengkapan buat berburu udah lu periksa lagi belum? Barangkali ada yang ketinggalan atau rusak, `` Kata Budi sambil melahap sepotong roti yang masih tersisa di meja.

Rumah gubuk yang terletak di pinggiran kawasan hutan lebat nampak mengeluarkan asa tipis dari corong di atasnya. Rumah itu yang ditempati oleh Budi dan Pratama sebagai tempat untuk menyimpan dan menyembunyikan apa yang mereka dapat dari hutan yang membentang tidak jauh dari gubuk mereka tinggal.

Budi dan Pratama adalah dua orang pemburu liar. Mereka hidup dari hewan-hewan yang buru dan tangkap. Meskipun hewan-hewan di hutan yang dinamakan oleh orang-orang sebagai ``Alas Peteng`` hanya monyet dan babi, tapi dua jenis hewan itulah yang selama ini mengisi dompet kedua pemburu itu dengan lembaran rupiah.

Dan hari ini, di malam yang bermendung ini, mereka berdua akan kembali melakukan perburuan ke Alas Peteng. Ke hutan gelap yang dirumorkan menyimpan sesuatu yang jauh lebih gelap dari namanya sendiri.

`` Senapan udah terisi peluru, perangkap udah siap dipasang, ama perbekalan udah gue cek- cek lagi tadi, `` tutur Tama sambil ia bangkit untuk mengambil dua pasang senapan laras panjang yang tergantung di dinding. Memperlihatkannya pada Budi.

Budi yang memang dua tahun lebuh tua dari Tama hanya mengangguk sambil tersenyum puas.

`` Bagus, jam 19.00 pas, kita berangkat ke Alas Peteng, panasin dulu mobilnya Tam, sekarang udah masuk waktu magrib. Gue mau ambil golok ama senter dulu, `` perintah Budi berlagak seperti bos besar.

Tama hanya mendecih tapi ia menuruti perintah dari Budi. Pria dengan tinggi 168 cm itu keluar dari gubuk. Semilir angin dingin menerpa wajahnya kala kakinya menginjak tanah rerumputan depan gubuk.

Matanya melihat siluet pohon-pohon tinggi yang tegak berdiri menembus atap langit. Senja telah tiba dan kawasan hutan lebat itu mulai tertutupi oleh kegelapan. Tak ada yang terdengar selain suara-suara hewan hutan yang sesekali melolong nyaring. Simfoni dari suara serangga yang berderik memeriahkan penyambutan malam.

Tapi, Tama mendengar suara lain, bisikan yang berasal dari arah hutan itu sendiri. Seakan bisikan aneh atau perasaan aneh itu melesat langsung ke jantungnya.

Wajah Tama berubah pucat, tidak, ini sudah tidak baik. Seharusnya mereka jangan pergi ke hutan itu. Ada yang salah dengan tempat itu!

19.50 – Alas Peteng 

Sorot cahaya senter menembus pekat. Suara ranting terinjak terdengar cukup nyaring ditambah dengan gemerisik daun dan semak yang saling bergesekan, menciptakan iramanya sendiri. Memecah hening di hutan itu.

Purnama malam ditelan oleh rombongan mendung pekat di langit. Awan-awan gelap membentang seakan tidak memberi ruang untuk langit menampakan cahayanya. Malam itu, hujan turun secara perlahan.

`` Sial, malah turun ujan! `` Budi yang berada di depan, mengumpat kesal. Popor senapannya ia senderkan ke sebuah pohon. Budi merogoh tas ranselnya, mengambil jas hujan.

`` Kita udah hampir satu jam lebih masuk ke Alas, tapi sejauh pandangan mata, belum ada satu pun hewan-hewan itu yang keluar atau terlihat, mungkinkah mereka tidak berani keluar karena hujan akan turun? `` Cetus Tama yang melakukan hal yang sama seperti Budi, bergegas mengenakan jas hujan.

Budi menoleh dan ia berkata cuek, `` Entah, tapi firasat gue bilang kalo hewan-hewan itu pastinya ada di suatu tempat. Ini bukan pertama kalinya dateng ke tempat ini Tam, gue udah hafal seluk-beluk tempat ini, `` Masih dengan gayanya yang sama, Budi berkata dengan nada yakin.

`` Iya, gue paham, tapi itu pas siang hari bro, kita jarang masuk ke tempat ini di malam ini, apalagi di saat musim hujan, `` Balas Pratama pada Budi dengan nada kesal, `` Gimana kalo kita lanjut perburuan ini besok pagi atau siang, `` Lanjut Tama setengah berteriak untuk mengalahkan suara hujan.

Hujan bukan lagi gerimis melainkan menjadi butiran kasar yang jatuh ke tanah. Tanah-tanah yang mereka pijak berubah menjadi genangan lumpur.

Budi menatap wajah kawannya itu dengan aneh, sebelum tertawa terbahak.

`` HAHAHA, Tama, Tama, gak usah sok berani gitu lu. Gue paham sebenernya lu lagi ketakutan kan? Wajah lu pucet banget soalnya HAHAHA. Apa jangan-jangan, lu malah inget ama cerita tentang hutan ini hmm? `` Sentilnya bernada sindiran.

Tama berujar dengan jengkel, `` Bukan gitu monyet, maksud gue di tengah cuaca dingin ini, apa masuk akal hewan-hewan bakal keluar, mikir lah, `` Bentak Tama dengan kesal.

``Oke-oke gue paham, tapi daripada diem terus di titik ini, lebih baik kita jalan lagi. Perasaan gue bilang, kalo kita akan menemukan sesuatu di depan sana, `` Tanpa banyak bicara, Budi mengambil kembali senapannya. Lalu melangkah maju tanpa menghiraukan Tama.

Tama melongo melihat sikap Budi yang kembali tidak mendengarkan dirinya. Bukan ini yang ia harapkan. Tama ingin selekasnya pergi dari tempat ini. Tempat yang membuat perasaannya tidak nyaman. Sejak awal memasuki Alas Peteng, batinnya terus-menerus tidak tenang.

Gelisah entah oleh apa. Seolah ada yang membisikinya agar secepatnya meninggalkan area hutan gelap ini.

Dan firasat Tama bertambah buruk ketika dirinya semakin jauh dan dalam masuk ke Alas Peteng.

Hening dan diam, dua kata itu yang sekarang menemani perjalanan mereka. Langkah demi langkah menginjak lumpur basah. Menyisakan jejak sepatu yang jelas. Sorot senter dari senapan diarahkan dengan waspada. Peluru telah terpasang dan siap ditembakan, sampai pada...

`` HOI! SIAPA ITU! `` Budi secara mendadak berteriak. Pria itu berlari menembus rapatnya batang pohon.

Tama meloncat kaget mendengar teriakan kawannya itu. Dan lebih kagetnya lagi saat dia melihat Budi yang berlari ke depan namun setelahnya pria itu malah kebingungan.

`` Woi Bud! Lu kenapa tiba-tiba lari? `` Tama menyusul dan melihat Budi yang ngos-ngosan. Budi melirik Tama, setelah napasnya kembali normal, pria itu berkata pelan, `` Sumpah Tam, gue tadi liat sosok perempuan..., `` Bisikan lirih dari Budi terdengar jelas oleh Tama.

`` Hah perempuan apaan anjing! Jangan ngaco deh lu, `` Tama melangkah mundur dengan wajah pucat. Sialan! Kenapa disaat seperti ini malah Budi bercerita yang aneh-aneh.

`` Demi tuhan, perempuan itu ngelirik ke arah gue sambil tersenyum. Terus pergi gitu aja, ``

Bibir Budi bergetar. Kali ini bukan oleh dinginnya hujan, melainkan oleh...rasa takut.

`` Gue berusaha gak percaya apa yang dibilang ama orang-orang selama ini, tapi katanya...kalo ketemu sosok perempuan di hutan tengah malam, itu pertanda ada sesuatu yang buruk, `` Terang Budi dengan wajah pucat.

Tama tidak bisa berkata apa-apa lagi melihat teman satunya ini berkata begitu.

`` Tam, `` Budi menatap wajah Tama yang sudah memancarkan kengerian yang sangat, `` Menurut lu, legenda itu bener gak? Tentang hutan ini, tentang cerita si penyihir..., `` Budi melepaskan topinya. Membiarkan rambutnya dibasahi oleh air hujan. Matanya kosong seakan jiwanya telah hilang entah kemana.

Tama menggeleng pelan, `` Gue gak tau Bud, tentang si penyihir, tentang hutan terkutuk ini. Yang gue tau sekarang, kita harus secepatnya kembali ke mobil lalu pergi dari kawasan Alas Peteng, `` Bisik Tama sambil mengencangkan tali ranselnya seolah bersiap hendak pergi secepatnya dari tempat angker ini.

Untuk kali ini, Budi setuju. Keberanian dan kesombongan yang selama ini ia keluarkan seakan hilang begitu saja. Lenyap tak berbekas. Tempat ini menyimpan sesuatu yang membuat perasaannya terus gelisah. Ketakutan yang datang tidak tahu darimana asalnya. Seolah hutan ini memang wujud dari ketakutan itu sendiri.

Keputusan masuk ke Alas Peteng nampaknya menjadi keputusan yang akan dirinya sesali. Tempat ini jauh mencekam dari apa yang Budi bisa bayangkan. Budi dan Tama sepakat untuk tidak melanjutkan penelusuran mereka di daerah ini. Nampaknya mereka akan melanjutkan besok atau tidak usah melanjutkan sama sekali.

`` AAAAAA TOLONGGG!, ``

Tepat ketika Budi dan Tama hendak mengangkat kakinya dari tempat ini, mereka dikejutkan suara teriakan seorang perempuan dari arah depan. Suaranya terdengar melolong bak serigala. Mengguncang nalar bagi siapapun yang mendengarnya. Suara siapa itu?

`` T-t-tammmm..., suara apa ituuu, `` Budi berkata dengan nada terbata. Wajahnya berubah menjadi horror. Ketakutan jelas mengukir

`` Mana gue tauu, tapi apa baiknya kita periksa aja? Siapa tau emang tu suara dari orang beneran yang butuh pertolongan, `` Entah setan darimana yang merasuki Tama, begitu dia menyelesaikan ucapannya, Tama bangkit dari jongkoknya lalu menyambar senapan tapi meninggalkan ranselnya.

Tama begitu saja pergi meninggalkan Budi yang telah ketakutan setengah mati. Posisi mereka seakan terbalik ; Budi yang penakut dan Tama yang pemberani.

Tak ada pilihan lain, Budi menyusul Tama sambil membawa senapannya. Budi kian bertambah pucat. Tidak, ini sudah tidak baik. Seharusnya mereka jangan pergi ke hutan ini. Ada yang salah dengan tempat ini.

Semakin dalam mereka memasuki tempat ini, hingga Budi sendiri pun tidak tahu apakah dirinya bisa menemukan jalan keluar. Kompas, sinyal, hingga telephone, semuanya malah menjadi benda tidak berguna.

Pohon-pohon besar dirinya lewati dengan susah payah. Untungnya jejak Tama tidak hilang begitu saja. Samar, Budi melihat Tama yang masih berlari menyusuri ilalang kasar. Senternya perlahan mulai meredup. Oh ayolah, jangan habis baterai dulu di tengah kondisi seperti ini.

CTARRR!

Suara petir dari balik mendung mengagetkan Budi. Tapi tidak ada yang lebih mengagetkannya dibanding saat dia melihat samar-samar siluet sebuah rumah yang terlihat setelah dirinya menembus belukar besar.

Budi berada di tanah lapang dan ada satu rumah yang berdiri. Sebuah rumah yang nampak usang dan tak berpenghuni. Orang gila mana yang mendirikan rumah di tempat ini?

`` Woii Tam, sialan lu ninggalin gue! `` Budi menghampiri Tama yang anehnya berdiri mematung. Sorot matanya seolah terpaku ke arah rumah kosong itu. Bibirnya bergetar seakan Tama melihat sesuatu.

Budi menyentuh bahu Tama, tak ada reaksi. Tama masih diam.

`` Tam..., `` bisik Budi, `` Ayo kita pulang. Lupain semua yang ada disini, lupain tempat ini, `` lanjutnya. Namun seakan telinga Tama telah disumbat oleh sesuatu, Tama masih diam bergeming.

`` Budi..., `` Bibir Tama bergerak, sorot matanya membeliak, `` Gue lihat dia... penyihir itu, `` Bisik lirih Tama.

`` Jangan bercanda Tam, gak lucu! Lebih baik kita pergi dari tempat jahanam ini, `` Budi merayu dengan nada memaksa. Budi sudah bergetar ketakutan. Tangannya berusaha menarik tubuh Tama yang seolah membatu.

`` Gak bisa Bud, gue gak bisa pergi, tadi gue denger suara nyokap dari arah rumah itu, beliau minta bantuan buat dilepasin dari jeratan si penyihir, `` Tama melangkah cepat menuju rumah misterius.

`` Gila lu Tam! Sadar bangsat! Ga ada suara nyongkap lu. Itu cuman bisikan iblis, Udah, kita pergi dari tempat sialan ini, `` Budi berusaha menyadarkan Tama yang seakan terpengaruh oleh kekuatan jahat. Tapi Tama masih tetap dengan wajah kosongnya.

`` Tapi Bud, itu siapa..., `` Telunjuk Tama mengarah ke arah rumah lapuk. Tangannya teracung kaku. Tama berekspresi datar hingga Budi sulit mengerti apa maksud temannya ini.

Saat Budi mengikuti kemana telunjuk Tama mengarah, bola matanya melotot. Rahang Budi seolah hendak jatuh dari mulut saking mengerikannya apa yang terjadi di depan kelopak matanya. Budi tidak percaya jika sosok yang dilihatnya tadi ternyata ada di dalam rumah misterius itu.

Sosok si perempuan bergaun hitam. Tapi sekarang Budi bisa melihat jelas wujud sosok itu. Wujud iblis yang Budi tidak akan pernah lupakan selamanya. Mulut itu menganga lebar, menampakan lidah panjang dengan gigi tajam bagai taring macan. Wajahnya putih pucat dihiasi borok hitam. Mata perempuan itu bersinar merah di tengah gelapnya hutan. Budi melihat senyum iblis di bibir sosok itu.

`` Bud, Kanjeng Nyai bilang kita harus mati, ``

`` Apa maksud lu—``

DOR!

Belum selesai Budi mengakhiri kalimatnya, sebutir timah panas melesat melubangi tengkoraknya. Darah bermuncratan membasahi tanah. Serpihan tulang tengkorak beserta isinya berhamburan. Budi Angga Wiryo, tewas oleh satu tembakan yang langsung mengakhiri hidupnya.

Setelah membunuh rekan seperjuangannya, Tama tersenyum dingin, sebelum dirinya sendiri menutup mata dan mengarahkan laras senapannya ke bawah dagu. Pratama Adi Wiguna, menarik napas sesaat lalu menghembuskannya sesaat.

Tangannya pelan-pelan menarik pelatuk, mengikuti perintah pelan yang berbisik di telingannya. Mati...Mati...Matilah.

DOR!

Satu peluru berujung runcing sekali lagi keluar dari laras senapan itu. Untuk kembali menghujam dan mengoyak dagu milik pria itu sekaligus mengakhiri dirinya sendiri. Pratama tumbang di samping jasad dari rekannya.

Darah merah menggenang, darah yang berasal dari dua jasad yang tergeletak kaku di atas tanah yang masih diguyur oleh hujan.

Sementara di tempat lain, sosok bergaun hitam itu tersenyum menyeringai senang. 

`` Tumbal untuk ritualku masih belum cukup, aku butuh lebih banyak tumbal darah lagi, ``

TAMAT