Review Film Pesta Babi
Oleh: Sarah
Pesta Babi merupakan film kedua dari Dandhy Laksono yang sudah selesai ku tonton setelah Dirty Vote. Overall it’s a 9/10 untuk aku yang kurang jago menilai suatu film. Karena aku juga sudah menonton beberapa cuplikan Behind The Scene dari Pesta Babi, jadi aku sangat mengapresiasi proses dibalik film tersebut. Menurutku hal yang paling ku suka dari film ini adalah bagaimana cameraman menunjukkan pada penonton keadaan di Papua saat ini. Berbagai perasaan yang mungkin ingin disalurkan oleh masyarakat di sana dan juga sang produser dapat dirasakan oleh penonton yang hanya menonton dari film dokumenter ini. Pemilihan backsound, narasi yang dibawakan serta visualisasi yang disajikan cukup membuat aku merinding. Dan untuk film yang berdurasi 1 jam setengah, Pesta Babi benar-benar terasa cukup singkat untuk kaum penonton konten singkat Tiktok seperti ku. Mungkin karena pembawaannya tidak selalu dibuat mengejutkan dan dramatis, namun justru berhasil membuat aku penasaran dan tertarik hingga terjaga sampai akhir.
Sebenarnya kalau ditanya apa alasan cuman memberi nilai 9 bukan 10, aku pun bingung karena apa. Mungkin karena platform yang digunakan itu gratis dan aku jadi kepotong iklan saat serius, atau mungkin aku seharusnya berlangganan pada aplikasinya dulu sebelum menonton. Tapi kembali lagi, aku sangat menikmati saat menonton film itu. Somehow kisah yang diangkat dari realita yang masih dialami oleh teman-teman kita di papua saat ini mengingatkan ku pada film Pocahontas dari Disney. Sangat disayangkan bahwa hal seperti ini masih terjadi dan menimpa umat manusia di zaman sekarang. Tapi karena adanya film ini membuatku sadar bahwa masih banyak di belahan dunia ini, bahkan sangat dekat dengan kita kehidupan yang masih perlu diperjuangkan.
Meskipun beberapa penonton lain juga menganggap bahwa film ini terlalu menggiring opini penonton, tapi menurut opiniku sendiri film ini tetap berusaha menampilkan realita yang terjadi di lapangan melalui sudut pandang masyarakat Papua. Namun apa pun pandangan masing-masing orang setelah menonton, perasaan dan keresahan masyarakat Papua yang ditampilkan di film ini tetap layak dan perlu didengar. Semoga dengan adanya film ini, semakin banyak ruang bagi semua orang di Indonesia untuk berkarya dan bersuara.
