SAMPAI MUSIM TERAKHIR
Oleh: Stephanie Shinta Abigail
Ada orang-orang yang hanya datang ke dalam hidup seseorang seperti hujan yang turun sebentar lalu menghilang bersama sore, meninggalkan jejak yang perlahan dilupakan waktu. Namun, ada pula orang-orang yang hadir seperti laut: tenang, luas, dan menetap begitu lama, hingga seseorang tak lagi mampu membayangkan dunia tanpa suara ombaknya.
Malam itu hujan turun perlahan, di atas atap rumah kecil yang mereka tinggali setelah bertahun-tahun berjalan bersama. Rintiknya terdengar seperti jemari yang mengetuk kenangan satu per satu, menghadirkan kembali hari-hari yang telah mereka lewati sejak pertama kali saling mengenal. Dari sudut ruang tamu yang hanya diterangi lampu berwarna kuning hangat, Fathan duduk memperhatikan Kinara yang sedang melipat pakaian dengan wajah sedikit termenung. Mereka baru saja berdebat beberapa jam yang lalu mengenai hal yang sebenarnya sederhana: tentang hal-hal yang memenuhi pikiran Kirana seperti ombak malam yang datang silih berganti.
Bukan pertengkaran besar. Tidak ada suara yang meninggi. Tidak ada pintu yang dibanting. Namun pada akhirnya mereka sama-sama tahu, bahwa luka dalam hubungan tidak selalu hadir dari badai. Terkadang ia muncul seperti retakan kecil pada kaca yang dibiarkan terlalu lama, nyaris tak terlihat tetapi mampu merambat ke seluruh bagian secara perlahan.
Fathan memandang perempuan itu dalam diam. Perempuan yang selama bertahun-tahun telah menjadi rumah bagi lelah yang ia bawa pulang dari dunia. Perempuan yang mengenal seluruh sisi dari dirinya, bahkan dari bagian-bagian yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun. Ia mengenal bagaimana Kinara menggigit bibir bawahnya ketika sedang menahan kecewa, bagaimana matanya yang berubah menjadi lebih redup saat merasa tidak didengarkan, dan bagaimana senyumnya yang selalu berhasil membawa kebahagiaan yang membuat hari paling buruk sekalipun tetap terasa ringan.
"Aku minta maaf sayang."
Kalimat itu akhirnya memecah keheningan.
Kinara menghentikan tangannya sejenak lalu menoleh.
"Aku juga minta maaf sayang."
Sesederhana itu.
Mungkin bagi orang lain, cinta adalah tentang bagaimana caranya menemukan seseorang yang tidak pernah menyakiti. Namun bagi mereka, cinta adalah tentang bagaimana caranya menemukan seseorang yang memilih untuk tetap tinggal setelah mengetahui banyaknya kekurangan yang dimiliki oleh masing-masing dari mereka. Sebab sejak awal mereka sadar bahwa hubungan bukanlah kisah dongeng yang selalu dipenuhi kebahagiaan tanpa jeda, tetapi tentang dua manusia yang belajar secara terus-menerus untuk memperbaiki kesalahan yang sama, gagal menjadi sempurna, lalu kembali mencoba keesokan harinya.
Mereka pernah membuat janji mengenai hal itu bertahun-tahun lalu, ketika usia mereka masih terlalu muda untuk memahami artinya kehilangan.
Saat itu, mereka duduk di tepi danau setelah hujan reda. Langit malam dipenuhi oleh bintang, dan kini aroma tanah basah menguap bersama angin yang berhembus lembut dari kejauhan. Kinara bertanya dengan nada bercanda, meskipun di dalam matanya tersimpan kesungguhan yang tidak bisa disembunyikan.
"Kalau suatu hari nanti hubungan kita jadi sulit, apa yang akan kamu lakukan?"
Fathan tersenyum sambil melempar batu kecil ke permukaan air.
"Kita perbaiki."
"Kalau masalahnya datang lagi?"
"Kita perbaiki lagi."
"Kalau datang setiap hari?"
Fathan menoleh, menggenggam tangan Kinara dan menatap dengan penuh keyakinan.
"Kalau datang setiap hari, berarti aku akan tetap memilih kamu juga setiap hari."
Kinara tertawa saat itu, tetapi jauh di dalam hatinya, ia menyimpan kalimat tersebut seperti seseorang yang menyimpan surat berharga di tempat yang paling aman. Ia tidak tahu bahwa bertahun-tahun kemudian, ketika hidup benar-benar menjadi rumit, ketika keduanya sama-sama lelah oleh pekerjaan, oleh mimpi yang tidak selalu berjalan sesuai rencana, dan oleh kenyataan yang terkadang terasa lebih berat daripada harapan. Kalimat sesederhana itu akan menjadi alasan mengapa mereka tetap bertahan.
Karena cinta mereka tidak tumbuh seperti bunga yang mekar dalam semalam, tetapi tumbuh seperti pohon yang perlahan mengakar, menembus tanah, menghadapi panas, hujan, serta musim yang berganti-ganti. Ada hari ketika mereka merasa sangat bahagia hingga dunia seolah berpihak kepada mereka, dan ada pula malam ketika keduanya duduk dalam diam karena tidak tahu bagaimana caranya menyampaikan rasa kecewa tanpa saling melukai.
Namun apa pun yang terjadi, mereka akan selalu kembali pada satu kebiasaan yang sama: mengungkapkan isi pikiran, meminta maaf, lalu memperbaiki.
Sebab bagi Fathan, kehilangan Kinara bukanlah sesuatu hal yang pernah ia pertimbangkan.
Perempuan itu telah menjadi arah bagi hidupnya.
Fathan sering kali mengingat masa-masa ketika hidupnya terasa berantakan, dan ia tidak pernah benar-benar tahu kemana ia harus melangkah. Ada banyak kesalahan yang pernah ia lakukan, dan ada banyak keputusan yang masih ia sesali sampai saat ini. Namun di antara semua orang yang datang dan pergi silih berganti di hidupnya, hanya Kirana lah yang memilih untuk tetap tinggal setelah ia mengetahui semua cerita, entah baik maupun buruk.
Perempuan itu mampu hadir dalam setiap musim kehidupannya, menemani hari-hari yang dipenuhi tawa maupun malam panjang yang dipenuhi keraguan, dan menerima semua kekurangan yang dimilikinya bukanlah suatu hal yang berat bagi Kinara. Ia tidak pernah meminta dirinya menjadi orang lain atau bahkan orang yang tidak Kinara kenal. Dan mungkin karena itulah, di antara begitu banyak alasan untuk menyerah, Fathan selalu menemukan alasan yang lebih besar untuk bertahan. Sebab semakin lama ia berjalan bersama Kinara, maka ia semakin menyadari bahwa perempuan itu bukan sekadar seseorang yang ia cintai, dan bukan sekadar tempat persinggahan, melainkan rumah. Sejauh apa pun hidup membawanya pergi, hatinya akan selalu menemukan jalan untuk kembali.
Sejak hari itu, Fathan mulai menyadari sesuatu.
Bahwa cinta tersebesar bukanlah tentang siapa yang membuat jantung berdebar paling kencang.
Melainkan tentang siapa yang tetap duduk di sampingmu ketika hidup sedang berada pada titik paling gelap.
Dan Kinara selalu melakukan itu.
Karena itulah, setiap kali bertengkar, setiap kali ego berbicara lebih keras daripada perasaan, Fathan akan selalu mengingat perempuan yang pernah menemaninya melewati masa-masa paling sulit di hidupnya. Ia mengingat bahwa hubungan mereka dibangun bukan hanya oleh kebahagiaan, tetapi oleh air mata, kesabaran, pengertian, juga keberanian untuk tetap memilih satu sama lain berulang kali.
"Aku akan tetap memilihmu sampai musim terakhir dalam hidupku, Kinara."