Teluk Cakra Manggilingan
Oleh: Firzatullah Aira Nurdiana
”Cublak-cublak suweng
Suwenge ting gelenter
Mambu ketundhung gudel
Pak empong lera lere
Sapa ngguyu ndhelikkake
Sir sir pong dhele kopong”
Aku tidak pernah mengerti mengapa aku menyukai lagu tersebut. Setiap hari, aku selalu berusaha menyanyikan lagu tersebut, walaupun bagi mereka aku tidak terdengar seperti bernyanyi. Di pesisir pantai, saat dentuman ombak menyerbu daratan, mereka selalumenyanyikan lagu tersebut sambil bermain dengan gembira seperti ikan-ikan laut yang selalu bepergian bebas. Aku tidak pernah mengikuti mereka bermain, apa mungkin karena aku tidak bisa menyanyikan lagu itu dengan baik? Orang-orang menyebut tempat ini adalah Teluk Cakra Manggilingan, aku tak tahu mengapa mereka memanggil pantai yang indah ini dengan nama tersebut.
Mereka selalu bercerita bahwa teluk ini adalah akhir segalanya, akhir dari kehidupan, atau mereka menyebutnya dengan ”Surga” seolah-olah menganggap ini adalah anugrah terbaik dari Tuhan. Namun orang-orang juga selalu bilang bahwa konon siapapun yang bermain atau berdiam di Teluk ini sampai bulan menampakkan wajahnya yang bersinar akan menjadi seekor ikan seutuhnya. Mungkin mitos tersebut hanya akal-akalan penduduk desa agar anak-anak bisa pulang secepatnya. Aku biasanya akan menunggu bulan tiba agar aku bisa membuktikan bahwa mitos itu hanyalah bualan penduduk desa.
Saat matahari mulai berpisah, tiba-tiba seseorang memanggil namaku "SARIP! SARIP! SARIP! AYO PULANG!" Teriak itu berasal dari pemulung tua dengan badan yang selalu bungkuk serta pakaian yang selalu dibasahi keringat akibat kerja melelahkan. Itulah nenekku. Aku tidak tinggal dengan ayah dan ibu. Kata orang-orang, mereka tidak menginginkanku. Aku tidak tahu kenapa. Nenek selalu mencintai aku apa adanya walaupun aku kadang membuat nenek menyebalkan. Kata nenek, aku adalah anugrah dari Tuhan! Sama seperti teluk itu, hanya saja teluk itu dicintai oleh semua orang.
Aku tinggal di rumah yang bisa dibilang bukan rumah biasa seperti penduduk desa. Rumahku berada di antara teluk dengan pemukiman desa. Rumahku sangatlah luar biasa! Aku bahkan bisa tidur dengan pemandangan pekarangan bintang yang indah ditambah pelukan hangat dari nenek membuatku semakin nyaman akan rumah ini. Biasanya sebelum tidur aku selalu berusaha menyanyikan lagu permainan itu, tetapi nenek selalu melarang bernyanyi di malam hari karena bisa mendatangkan hujan. Ya, aku sama sekali tidak menyukai hujan. Aku membenci hujan karena saat hujan aku merasa dunia ini akan hancur! Semua basah, rumahku seperti hampir habis dimakan bumi ini. Walaupun sebenarnya aku tahu nenek sepertinya tidak suka saat aku bernyanyi.
Saat waktu tidur telah tiba, nenek biasanya suka bercerita. Malam ini nenek menceritakan bagaimana Teluk Cakra Manggilingan bisa dicintai oleh semua orang "Teluk ini sudah menjadi saksi perjalanan kebahagiaan semua orang, nanti kalau Sarip sudah besar pasti akan mengerti," ucap nenek sambil mengelus kepalaku. Saat nenek sudah terlelap, aku memikirkan bagaimana cara aku bisa menjadi bagian Teluk Cakra Manggilingan itu. Teluk yang dicintai oleh semua orang, bahkan orang tuaku sendiri.
***
Saat fajar menyingsing, nenek biasanya bersiap-siap untuk pergi memulung, tetapi hari ini berbeda. Nenek tidak membangunkanku, walaupun sebenarnya aku bisa bangun sendiri. Saat aku bangun, nenek sepertinya sedang menangis tersedu-sedu. Aku tidak tahu mengapa. Ya sudahlah aku tidak bisa berbuat apa-apa karena berbicara pun aku masih terbata-bata. Hari ini aku tidak pergi ke teluk, aku sedang menggambar sesuatu yang sangat spesial untuk nenekku. Detik demi detik berlalu, gambarku sudah selesai. Tapi nenek tak kunjung berhenti menangis, sambil menatap teluk yang berada di depannya.
Di tengah kesedihan itu, aku mendengar seseorang yang sepertinya tidak asing. "Bu, ini sudah 10 bulan yang lalu! Ibu tak bisa menyalahkan diri ibu sendiri! Itu salah Parman dan Siti!" Perkataan yang berasal dari seseorang dengan tubuh yang tegap memakai pakaian rapih seperti orang-orang yang aku lihat di televisi. Nenek hanya bersikap diam mematung "Dia Anakku." Saat itu aku masih ingin mengambar. Tetapi sebelum itu, aku ingin membawa gambar spesial ku untuk nenek. Karena aku merasa tidak enak untuk memberikannya di waktu ini, aku membawa gambar itu keluar melewati pintu belakang. Dan berharap gambaranku ini bisa dicintai seperti teluk ini.
Angin berhembus kencang dari belakang. Hampir membawa gambarku ke langit angkasa. Untung saja aku berhasil menahannya. Aku melihat ke sekitar untuk memastikan tidak ada seorang pun yang melihat gambaranku. Aku tahu gambaran ini akan dicintai oleh semua orang seperti teluk Cakra Manggilingan, tapi biarkanlah nenekku menjadi orang pertama yang mencintai gambaranku ini. Di tengah kedamaian ini, aku mendengar suara bising keributan di depan rumahku. "CUCUKU TIDAK MATI! CUCUKU BUKAN ANAK AUTIS!"
***
Malam itu, aku kembali ke teluk. Ombak datang dan pergi. Teratur. Tidak kacau seperti duniaku. Aku duduk di pasir. Menunggu bulan. Mungkin mereka benar. Mungkin aku memang berbeda. Mungkin aku tidak akan pernah bisa menjadi seperti mereka yang tertawa dan bercengkrama. Tapi di sini... aku tidak perlu menjadi siapa-siapa.
Aku hanya perlu menjadi diriku sendiri. Air laut menyentuh kakiku. Dingin. Tenang. Aku mencoba menyanyikan lagu itu lagi.
Pelan.
Kali ini... tidak terasa salah. Aku tersenyum.
“Maaf, Nek...”
Angin malam berhembus lembut. Bulan perlahan muncul. Dan untuk pertama kalinya aku merasa dunia tidak lagi menolakku. Jika benar aku akan menjadi ikan. Aku tidak takut. Karena di sini, di Teluk Cakra Manggilingan, aku akhirnya menjadi bagian dari sesuatu. Sesuatu yang bisa menerima aku.