PENA DI TANGAN WANITA: PENTINGNYA PENDIDIKAN UNTUK
WANITA BAGI KEMAJUAN GENERASI MENDATANG
Oleh: Fitria Az Zahra
"You educate a man; you educate a man. You educate a woman; you educate a generation”. Brigham Young.
Pendidikan merupakan fondasi utama bagi kemajuan bangsa, dalam jurnal penelitian yang dilakukan Suharti dan haifaturrahmah terbukti bahwa pendidikan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), mendorong pertumbuhan ekonomi, membentuk karakter, mengurangi kemiskinan dan menjaga kelestarian budaya. Akan tetapi, esensi dari pendidikan tersebut sering kali tereduksi karena aksesnya yang tidak inklusif terutama bagi para wanita.
Di tengah arus globalisasi dan disrupsi digital, tuntutan bagi generasi muda untuk mengambil langkah berani itu semakin nyata. Dalam konteks ini, pendidikan bagi wanita memegang peranan yang krusial karena tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri, melainkan berdampak juga bagi orang banyak. Seperti ketika seorang wanita mendapatkan akses pendidikan yang layak, ia tidak hanya sedang meningkatkan kapasitas dirinya sendiri, tetapi juga sedang membangun fondasi kecerdasan bagi generasi mendatang.
Kualitas generasi mendatang sangat bergantung pada pola asuh, wawasan, dan pendidikan ibunya. Wanita yang berwawasan dan memiliki pendidikan akan sadar akan pentingnya kesehatan, lingkungan sosial, tingkat literasi, dan pendidikan bagi anaknya. Oleh karena itu, menjadikan pendidikan wanita sebagai prioritas bukan sekadar isu kesetaraan gender, melainkan sebuah investasi strategis untuk menciptakan generasi mendatang yang lebih tangguh dan berwawasan.
Ada sebuah pepatah yang berbunyi, "You educate a man, you educate a man. You educate a woman, you educate a generation." Mengapa demikian? Karena pada hakikatnya, seorang wanita akan menjadi pendidik pertama yang membentuk kualitas generasi mendatang. Namun sayangnya, akses pendidikan bagi wanita masih menghadapi berbagai tantangan.
Hingga kini, masih terdapat persepsi di masyarakat bahwa "wanita tidak perlu berpendidikan tinggi karena pada akhirnya mereka akan bekerja di dapur". Fenomena yang lebih memprihatinkan adalah ketika persepsi ini justru didukung oleh sebagian besar wanita karena beranggapan ini adalah sebuah ‘norma’. Jika menilik sejarah sebelum perjuangan Kartini, akses pendidikan di Indonesia didominasi oleh kaum laki-laki. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa perspektif “pendidikan bagi wanita itu tidak terlalu penting” telah mengakar kuat dalam struktur sosial kita.
Untuk mematahkan stigma yang telah mengakar tersebut, diperlukan langkah berani yang dimulai dari re-definisi peran wanita. Wanita tidak boleh terjebak dalam dikotomi antara ‘sumur’ dan ‘norma’. Wanita harus menunjukkan bahwa pendidikan adalah alat untuk mengangkat derajat diri. Dengan menjadi wanita yang terpelajar, kita sedang membangun fondasi yang kokoh agar generasi mendatang tidak lagi lahir dalam kungkungan stigma melainkan tumbuh dalam kemerdekaan berfikir.
Langkah berani ini harus dimulai dari lingkup terkecil, yaitu diri sendiri. Sebagai seorang ibu, peran krusial kita adalah menanamkan pemahaman kepada anak perempuan bahwa pendidikan tinggi dan wawasan luas adalah hak sekaligus kebutuhan. Sementara itu, sebagai generasi muda, kita harus berani mengubah pola pikir mengenai urgensi pendidikan bagi wanita. Hal ini dapat diwujudkan dengan memanfaatkan teknologi untuk belajar secara mandiri, aktif mengikuti berbagai lokakarya untuk meningkatkan kualitas diri, serta mulai merintis karier.
Pada akhirnya, memprioritaskan pendidikan bagi wanita bukan sekadar upaya mencapai kesetaraan, melainkan sebuah investasi cerdas untuk masa depan peradaban. Stigma usang yang membatasi langkah wanita harus segera kita runtuhkan dengan langkah-langkah berani. Kita perlu menyadari bahwa dengan mementingkan pendidikan seorang wanita, kita sedang menyiapkan obor ilmu yang akan menerangi jalan bagi generasi mendatang. Masa depan generasi emas Indonesia dimulai dari tangan-tangan wanita yang teredukasi, yang berani melangkah dan menuliskan sejarah baru.
DAFTAR PUSTAKA
Mislaini, M., Hoktaviandri, H., & Muliati, I. (2020). Peran ibu sebagai pendidik dalam keluarga. Jurnal Kawakib, 1(1), 64-83.
Putri, A. A., Asa, D. S. M., Khairiya, F. P., Rofifah, F. P., Faturramadhan, M., Hafizhah, N., ... & Laitupa, W. (2023, June). Diskriminasi Terhadap Perempuan Dalam Bidang Pendidikan. In Prosiding Seminar Nasional Hukum, Bisnis, Sains dan Teknologi (Vol. 3, No. 1, pp. 453-464).
Suharti, J., & Haifaturrahmah, H. (2025). Pentingnya Pendidikan Sebagai Fondasi Pembangunan Bangsa. Jurnal Teknologi Pendidikan Dan Pembelajaran| E- ISSN: 3026-6629, 3(2), 593-596.
Waty, E. R. K., Nurrizalia, M., Elvito, S. N., Toressa, A., Nurafifah, S., & Naura, K. (2024). Peran Perempuan dalam Pendidikan. Jurnal Pendidikan Non Formal, 1(4), 13-13.