BISIK LAUT

 


BISIK LAUT

Oleh: Rahmayanti

Aku pernah bertanya kepada laut,

mengapa ia tak pernah benar-benar diam.


Padahal setiap hari

ia menerima ombak yang datang dan pergi,

angin yang singgah lalu menghilang,

bahkan hujan yang jatuh tanpa permisi.


Namun laut hanya menjawab

dengan riak-riak kecil di permukaannya.

Seolah berkata,

bahwa tidak semua hal harus dijelaskan.


Ada rasa-rasa yang cukup dirasakan.

Ada luka-luka yang cukup dipeluk dalam diam.

Ada kehilangan yang tak membutuhkan kata-kata,

karena waktu akan mengerti caranya sendiri.


Sama-sama menyimpan banyak cerita.

Sama-sama terlihat tenang dari kejauhan.

Sama-sama menyembunyikan badai 

di tempat yang tak mudah dijangkau orang lain.


Kadang kita seperti laut. 


Menyimpan rindu yang tak sempat pulang.

Menyimpan nama yang tak lagi kupanggil. 

Menyimpan harapan yang perlahan tenggelam di dasar kenyataan.


Lalu berjalan seperti biasa.

Tersenyum seperti biasa.

Berbicara seperti biasa.

Seakan tidak ada apa-apa.


Padahal di dalam hati,

ombak masih saling bertabrakan.


Ada perasaan yang ingin bertahan, 

dan logika yang meminta melepaskan.

Ada kenangan yang ingin dikenang,

dan masa depan yang meminta untuk dilanjutkan. 

Ada seseorang yang masih hidup dalam pikiran,

meski langkahnya telah jauh meninggalkan. 


Begitulah manusia. 


Sering kali lebih pandai menyembunyikan 

daripada mengungkapan. 

Lebih sering mengerti orang lain

daripada memahami dirinya sendiri.


Dan di antara semua itu,

kita terus bertumbuh. 

Tidak selalu menjadi lebih kuat.

Kadang hanya menjadi lebih terbiasa. 


Terbiasa menerima perpisahan.

Terbiasa menghadapi kehilangan.

Terbiasa menyadari bahwa tidak semua yang dicintai 

akan tetap tinggal. 


Namun laut mengajarkanku satu hal. 


Bahwa ombak tidak pernah membenci pantai

yang tak bisa ia miliki.

Ia tetap datang,

menyapa,

lalu kembali.

Berulang kali. 


Dengan cara yang sederhana.

Dengan cara yang ikhlas.

Mungkin mencintai juga seperti itu. 

Bukan tentang memiliki selamanya.

Melainkan tentang pernah merasa bahagia

karena seseorang hadir dalam hidup kita.


Dan ketika waktunya tiba untuk pergi,

kita melepaskannya 

tanpa menghapus semua kebaikan yang pernah ada. 


Malam semakin larut.

Angin membawa aroma asin

yang entah mengapa terasa menenangkan.

Aku kembali mendengar bisik laut. 


Bukan suara yang keras.

Bukan pula kata-kata yang jelas.

Hanya sebuah pengingat sederhana.


Bahwa hidup akan terus berjalan.

Bahwa hati yang patah akan terus belajar utuh.

Bahwa kehilangan tidak selalu berarti akhir. 


Dan bahwa suatu hari nanti,

setelah semua badai berlalu,

kita akan memandang masa lalu dengan tenang,

lalu tersenyum.


Seperti laut yang tetap luas

meski telah kehilangan ombak.

Seperti langit yang tetap indah

meski telah ditinggalkan senja berkali-kali.