Jika Aku Masih Boleh Pulang

 Jika Aku Masih Boleh Pulang
Oleh: Aeni

Semenjak hari itu,
entah mengapa rasanya
sebagian dari diriku telah mati.

Namun raga ini masih saja bangkit,
menjalani hari demi hari,
meski aku sendiri tak tahu
ke mana harus melangkah.

Aku kehilangan kompas hidupku.
Dan entah sampai kapan
aku harus berjalan tanpa arah,
memikul kehilangan ini
seorang diri.

Orang-orang berkata,
“Bersabarlah.”
“Belajarlah untuk ikhlas.”

Mungkin bagi mereka
kata-kata itu begitu sederhana.
Namun mereka tak pernah tahu
betapa sulitnya melepaskan
seseorang yang pernah menjadi
tempat paling nyaman untuk pulang.

Mungkin akan sulit bagiku
menemukan seseorang
yang mampu menyayangiku
setulus beliau.

Tuhan...

Beribu cara telah kucari
agar dapat melarikan diri
dari duka yang tak kunjung reda.
Aku mencoba mencari bahagia
di banyak tempat,
dengan banyak cara.

Namun tanpa kusadari,
semakin keras aku berusaha
melarikan diri dari luka,
semakin jauh pula
aku merasa dari-Mu.

Tuhan...

Apakah aku masih memiliki kesempatan?
Untuk kembali kepada-Mu,
setelah sejauh ini aku berjalan
dengan segala dosa
dan kesalahanku?

Aku malu
jika harus disebut sebagai manusia baik.

Tidak.

Aku hanyalah manusia
yang berkali-kali tersesat,
yang terlalu sibuk mencari jalan keluar
hingga lupa
siapa yang seharusnya menjadi tempat pulang.

Kalau boleh jujur, Tuhan...
aku menyukai kehidupanku yang sekarang.

Ada hal-hal yang membuatku bahagia,
ada tawa yang kembali kutemukan,
ada dunia yang perlahan
mulai kunikmati.

Namun di balik semuanya,
ada rasa takut
bahwa aku semakin lupa kepada-Mu.

Maafkan aku, Tuhan.

Aku ingin kembali.

Bukan karena aku merasa
telah menjadi manusia baik,
tetapi karena aku sadar
aku membutuhkan-Mu.

Aku ingin belajar lagi
menjadi manusia yang lebih baik.
Aku ingin memperbaiki langkahku,
meski perlahan,
meski berkali-kali jatuh.

Sebab aku percaya,
ada bunga-bunga yang tumbuh
setelah melewati musim paling panjang.

Dan jika kelak
bunga yang paling indah itu dipetik,
aku hanya ingin satu hal

Semoga bunga itu membawaku
ke tempat di mana
orang yang paling kucintai
sedang menungguku.

Di sana,
semoga tak ada lagi kehilangan.
Tak ada lagi air mata.
Tak ada lagi rasa ingin melarikan diri.

Hanya aku,
dia,
dan Tuhan
yang akhirnya
menjadi tempat kami pulang.