Aku Tidak Sempurna, Tapi Tuhan Membuat Aku Sempurna
Oleh: Hari Ramdani
Bagian Pertama: Anak yang Berbeda
Langit Bandung pagi itu mendung, seperti tidak mau membiarkan cahaya matahari masuk. Di sebuah kamar di lantai dua rumah bercat kuning pucat, seorang anak laki-laki tampak termenung di sisi kasurnya, memandangi sepatunya lama sekali, bukan karena ia tidak tahu cara memakainya, tetapi karena tangan kirinya bergerak lebih lambat dari yang ia inginkan.
Namanya Fahmi. Usianya sebelas tahun.
Ia lahir dengan kondisi yang oleh dokter disebut Cerebral Palsy ringan. Sisi kiri tubuhnya tidak bergerak cepat ke sisi kanan. Ia bisa berjalan sendiri, meski langkahnya sedikit pincang. Tangannya mampu menulis, namun gerakannya lebih lambat sehingga tulisannya sering tampak miring. Bicaranya jelas, namun kadang-kadang kata-kata keluar terbata-bata ketika ia terlalu bersemangat atau gugup.
Di sekolah, tak seorang pun pernah berniat menyakitinya. Namun, tidak berarti ia diterima sepenuhnya. Teman-temannya hanya tidak tahu bagaimana harus memperlakukannya, dan dari ketidaktahuan itu tumbuh jarak yang sulit dijelaskan. Fahmi sering menghabiskan waktu istirahat seorang diri di kantin, duduk di sudut yang sama dari hari ke hari. Saat pembagian kelompok, namanya hampir selalu menjadi yang terakhir disebut. Sesekali, dari perbincangan, ia melihat beberapa anak menirukan cara berjalannya yang sedikit pincang, lalu menahan tawa seolah sedang menyembunyikan sebuah lelucon. Mereka mengira Raihan tidak menyadarinya. Padahal, dia melihat semuanya. Ia mendengar semuanya. Hanya saja, ia sudah terlalu sering mengalaminya hingga memilih menyimpan perasaannya dalam diam.
Yang membuatnya tetap bertahan adalah ibunya, seorang perempuan bernama Nuraini, yang akrab dipanggil Bu Nur oleh orang-orang di sekitarnya. Ia bukan perempuan yang dianggap istimewa oleh ukuran dunia. Wajahnya biasa saja, hartanya tak seberapa, dan pendidikannya hanya sampai bangku Sekolah Menengah Pertama. Untuk menghidupi keluarganya, ia bekerja sebagai penjahit keliling, berpindah dari satu rumah ke rumah lain dengan mesin jahit kecil yang dibawanya di atas motor tua yang mulai dimakan usia. Namun, di balik tangan-tangannya yang kasar karena akrab dengan jarum, benang, dan kain, tersimpan kelembutan yang tak pernah gagal menenangkan Fahmi. Tangan itulah yang setiap malam mengusap kepalanya dengan penuh kasih ketika ia pulang membawa luka yang tak terlihat dan menangis dalam diam.
Setiap pagi, Bu Nur selalu bangun sebelum fajar matahari terbit. Pukul empat, ketika sebagian besar orang masih terlelap, ia sudah berada di dapur menyiapkan sarapan, lalu menunaikan salat sebelum memulai hari yang panjang. Setelah semuanya selesai, ia akan menuju kamar Fahmi.
Caranya membangunkan putranya tidak pernah berubah sejak bertahun-tahun lalu. Tiga ketukan pelan di pintu, lalu ia masuk sambil membawa segelas air putih hangat.
“Bangun, Nak. Hari ini hari baru.”
Tidak pernah, “Bangun, sudah siang.”
Tidak pernah pula, “Cepat, nanti telat.”
Selalu kalimat yang sama, “hari ini hari baru”.
Seolah-olah Bu Nur sedang menitipkan harapan di setiap pagi, mengingatkan bahwa apa pun yang terjadi kemarin ejekan, kesedihan, atau kekecewaan tidak harus dibawa terus sampai hari ini. Selalu ada kesempatan untuk memulai lagi.
Fahmi memang tidak memiliki banyak teman. Namun ia memiliki satu sahabat yang cukup membuat hari-harinya terasa lebih ringan.
Namanya Dimas.
Anak pindahan dari Jakarta itu mulai duduk sebangku dengannya sejak semester dua kelas empat. Dimas terkenal cerewet, rambutnya hampir selalu berantakan, dan ia memiliki kebiasaan aneh mengunyah kerupuk sambil mengerjakan soal matematika. Tetapi ada satu hal yang membuatnya berbeda dari kebanyakan anak lain.
Ia tidak pernah menatap Fahmi dengan rasa iba.
Ia tidak pernah menirukan cara jalannya yang sedikit pincang.
Ia juga tidak pernah terlihat kesal ketika Fahmi makan lebih lambat atau membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan tulisan di buku tugasnya.
Suatu siang, ketika mereka sedang duduk di kelas yang hampir kosong, Dimas tiba-tiba bertanya.
“Fahmi, kenapa tangan kirimu beda sama yang kanan?”
Pertanyaannya terdengar polos, tanpa nada mengejek ataupun rasa ingin tahu yang berlebihan.
Fahmi sudah sering mendengar pertanyaan serupa. Dari dokter, guru, tetangga, bahkan kerabat yang baru bertemu dengannya. Karena itu, ia menjawab dengan tenang.
“Dari lahir. Otakku ngirim sinyal lebih lambat ke sisi kiri tubuhku.”
Dimas mengangguk pelan. Wajahnya tampak serius, seolah sedang menerima penjelasan tentang sesuatu yang sangat penting.
“Oh,” katanya kemudian. “Jadi kayak internet yang sinyalnya lemot di satu sisi?”
Fahmi terdiam sejenak, lalu tertawa.
Bukan tawa yang dipaksakan.
Bukan tawa untuk menutupi rasa sakit.
Melainkan tawa yang benar-benar lahir dari perasaan ringan yang sudah lama tidak ia rasakan.
“Iya,” jawabnya sambil tersenyum. “Kurang lebih begitu.”
Dimas mengangguk mantap.
“Aku juga lemot matematika. Berarti kita sama.”
Dan untuk pertama kalinya, Fahmi merasa ada seseorang yang melihat dirinya sebagai anak biasa, bukan sebagai anak yang berbeda.
Begitulah persahabatan mereka dimulai, tanpa rasa kasihan, tanpa perlakuan istimewa, tanpa kalimat-kalimat yang canggung. Hanya dua anak yang menemukan persamaan di tempat yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.
Bagian Kedua: Luka yang Tidak Terlihat
Kelas enam datang membawa ujian yang tak pernah tercantum dalam buku pelajaran mana pun.
Namanya Bram. Anak ketua RT yang sejak kecil terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya. Tubuhnya lebih besar dibandingkan anak-anak seusianya, suaranya lantang, dan ia memiliki bakat yang tidak menyenangkan, menemukan kelemahan orang lain lalu menjadikannya sebuah bahan ejekan.
Suatu siang di lapangan basket, Fahmi duduk sendirian disebuah bangku sambil menunggu Dimas keluar dari toilet.
“Hei, si pincang.”
Fahmi mendengarnya, tetapi memilih diam.
“Eh, dipanggil tuh,” ujar Bram sambil melangkah mendekat, diikuti dua orang temannya. “Nanti ikut lomba lari tujuh belasan? Eh, nggak bisa ya?”
Ia terkekeh.
“Soalnya kaki kamu nggak secepat yang lain.”
Dua temannya ikut tertawa. Tidak keras, tetapi cukup jelas untuk sampai ke telinga Fahmi.
Fahmi tetap menatap ke depan. Di dalam dadanya, sesuatu terasa panas dan sesak. Namun, ia tahu bahwa kemarahannya adalah hadiah yang diharapkan Bram.
“Diam aja?” Bram kembali menyeringai. “Jangan-jangan ngomong juga susah.”
Kalimat itu membuat Fahmi akhirnya menoleh, tatapannya tenang, terlalu tenang untuk ukuran anak seusianya.
“Aku bisa ngomong,” katanya pelan. “Aku cuma lagi memilih apakah ucapanmu pantas dibalas atau tidak.”
Untuk sesaat Bram terdiam. Wajahnya menunjukkan keterkejutan yang tidak sempat ia sembunyikan.
Namun hanya sesaat, Ia mendengus, lalu pergi bersama teman-temannya.
Fahmi menang.
Setidaknya begitulah yang terlihat.
Namun malam harinya, ketika lampu kamar telah dimatikan dan rumah mulai sunyi, pertahanan yang ia bangun sepanjang hari perlahan runtuh.
Ia mengunci pintu kamar, membenamkan wajah ke dalam bantal, lalu menangis, bukan karena Bram, bukan semata-mata karena ejekan yang didengarnya siang tadi. melainkan karena pertanyaan yang selama ini ia simpan jauh di dalam hati akhirnya menemukan jalan keluar.
Kenapa aku?, kenapa harus aku?, Apa salahku?
Tangis itu pecah tanpa bisa ia tahan lagi.
Dari luar kamar, Bu Nur mendengar suara yang samar. Ia menghampiri pintu dan mengetuknya tiga kali.
Ketukan yang sama seperti setiap pagi.
“Fahmi.” dan Tidak ada jawaban.
“Ibu di sini, Nak.”
Keheningan menyelimuti beberapa saat.
Lalu terdengar suara kunci yang diputar perlahan.
Ketika pintu terbuka, Bu Nur mendapati putranya berdiri dengan mata sembap dan wajah yang basah oleh air mata. Tanpa banyak bertanya, ia masuk ke dalam kamar. Tanpa memberi nasihat. Tanpa mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia hanya duduk di tepi ranjang dan merengkuh anaknya ke dalam pelukan. Anak laki-laki yang kini hampir setinggi bahunya itu kembali menjadi anak kecil di dalam dekapannya. Mereka duduk seperti itu cukup lama. Sampai tangis Fahmi perlahan mereda dengan sendirinya, seperti hujan yang akhirnya kehabisan awan.
Barulah Bu Nur membuka suara, suaranya tenang, lembut, seolah kata-kata itu telah lama disimpan dan menunggu saat yang tepat untuk diucapkan.
“Fahmi, Ibu mau cerita sesuatu.”
Fahmi mengusap matanya.
“Apa, Bu?”
“Ingat waktu Ibu pernah cerita tentang hari kamu lahir?”
“Yang katanya prosesnya susah?”
Bu Nur mengangguk.
“Dua belas jam, Nak. Dua belas jam Ibu berjuang di ruang operasi. Waktu itu dokter bahkan sempat bilang kepada Ayah kalau kemungkinan terburuk bisa saja terjadi. Untuk Ibu, atau untuk kamu.”
Fahmi terdiam sambil mendengarkan ibunya bercerita.
“Ayahmu saat itu menunggu di mushola rumah sakit. Ibu nggak pernah tahu apa yang beliau doakan. Tapi pada akhirnya, kamu lahir. Dan Ibu selamat.”
Bu Nur mengusap rambut putranya perlahan.
“Setelah itu dokter bilang hidupmu mungkin tidak akan mudah. Mereka bilang mungkin ada banyak hal yang akan menjadi lebih sulit bagimu dibandingkan anak-anak lain.”
“Terus?”
Bu Nur tersenyum tipis.
“Terus Ibu pulang ke rumah sambil menggendong kamu. Dan waktu itu Ibu bilang kepada Tuhan, terima kasih sudah mempercayakan anak ini kepada Ibu.”
Mata Fahmi mulai berkaca-kaca lagi.
“Ibu tidak pernah meminta anak yang sempurna, Fahmi.” Suaranya nyaris seperti bisikan.
“Ibu hanya meminta seorang anak untuk dicintai. Dan Tuhan mengirimkan kamu.”
Ruangan kembali hening.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Fahmi, ia hanya menyandarkan kepalanya di bahu ibunya, merasakan hangat yang selama ini selalu menjadi tempat pulang, di dalam hatinya, pertanyaan-pertanyaan itu memang belum sepenuhnya hilang, namun untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus menemukan semua jawabannya malam itu juga, sebab perlahan ia mulai memahami satu hal, bahwa nilai dirinya tidak pernah ditentukan oleh apa yang tidak bisa ia lakukan, melainkan oleh kasih sayang yang membuatnya tetap bertahan hingga hari ini.
Bagian Ketiga: Kertas Putih
Kelas tujuh datang dengan banyak hal baru. Sekolah baru, lingkungan baru, dan orang-orang baru yang belum mengenalnya.
Fahmi mendaftar di sebuah sekolah menengah pertama negri, yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah. Hampir semua ruang kelas berada di lantai satu, sesuatu yang tampak sepele bagi banyak orang, tetapi cukup berarti baginya. Terlalu banyak anak tangga sering kali membuat tubuhnya lebih cepat lelah. Dimas juga bersekolah di tempat yang sama, meskipun mereka tidak lagi berada di kelas yang sama.
Di sekolah itu, Fahmi menemukan sesuatu yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
Seorang guru kesenian bernama Pak Aldi.
Pak Aldi adalah seorang guru yang berkacamata tebal yang hampir selalu mengenakan kemeja kotak-kotak dan membawa tas kanvas besar berisi berbagai alat gambar dan perlengkapan melukis. Cara mengajarnya berbeda dari guru-guru lain. Ia jarang berdiri di depan kelas untuk memberi contoh. Sebaliknya, ia lebih sering duduk di belakang sambil mengamati murid-muridnya bekerja. Sesekali ia berjalan pelan dari satu meja ke meja lain, berbicara dengan suara rendah, seolah setiap anak menyimpan cerita yang berbeda dan ia sedang membantu mereka untuk menemukannya.
Pada hari pertama pelajaran kesenian, Pak Aldi membagikan selembar kertas putih kepada setiap murid.
“Gambarlah sesuatu yang paling jujur tentang diri kalian,” katanya. “Bukan yang paling bagus. Tapi yang paling jujur.”
Murid-murid lain segera mulai menggambar. Ada yang membuat potret dirinya sendiri, ada yang menggambar lapangan sepak bola, dan ada pula yang menggambar keluarganya.
Fahmi justru menatap kertas kosong di depannya cukup lama.
Hingga akhirnya ia mengangkat pensil dengan tangan kanannya, tangan yang paling sering ia andalkan dan mulai menggambar.
Ia menggambar sebuah pohon.
Batangnya bengkok.
Dahan-dahannya tidak simetris.
Salah satu sisinya tampak lebih pendek daripada sisi yang lain.
Namun dari dahan yang tidak sempurna itu tumbuh daun-daun kecil yang lebat. Di bawah pohon tersebut, ia menggambar sebuah bayangan panjang yang bahkan tampak lebih besar daripada pohonnya sendiri.
Ketika berkeliling kelas, Pak Aldi berhenti di meja Raihan lebih lama dibandingkan meja murid yang lain.
Ia tidak mengatakan apa-apa, dan juga tidak memberi komentar.
Hanya mengangguk pelan sebelum melanjutkan langkahnya. Namun setelah pelajaran berakhir, ia memanggil Fahmi.
“Kamu tahu?” kata Pak Aldi sambil menatap gambar itu. “Pohon yang batangnya lurus justru lebih mudah ditebang.”
Fahmi mengernyit. Ia tidak mengerti maksudnya.
“Pohon yang bengkok lebih sulit ditebang,” lanjut Pak Aldi. “Karena arah tumbuhnya tidak terduga. Itu sebabnya banyak tukang kayu memilih membiarkannya tetap berdiri.”
Setelah mengatakan itu, Pak Aldi menepuk bahunya pelan lalu berjalan pergi.
Fahmi tetap berdiri di kelas yang mulai kosong.
Di tangannya masih tergenggam gambar pohon bengkok itu.Dan untuk pertama kalinya, ia tidak memandang gambar tersebut sebagai sesuatu yang memalukan.
Sejak hari itu, Fahmi mulai menggambar dengan sungguh-sungguh.
Setiap malam, setelah pekerjaan rumah selesai, ia mengambil buku sketsa yang dibelinya dari hasil menyisihkan uang jajan selama tiga minggu. Lalu ia menggambar.
Awalnya hanya berupa coretan sederhana, kemudian perlahan berubah menjadi bentuk-bentuk yang lebih jelas.
Tangan kirinya yang bergerak lebih lambat ternyata bukan penghalang. Menggambar tidak menuntut kecepatan. Menggambar membutuhkan ketelatenan dan kesabaran.
Dan kesabaran adalah sesuatu yang telah lama dipelajari Raihan sejak kecil.
Sejak ia belajar mengancingkan baju sendiri.
Sejak ia belajar mengikat tali sepatu dengan satu tangan yang lebih lamban dari yang lain.
Ia menggambar wajah ibunya.
Setiap garis halus di sudut mata yang mulai menampakkan usia.
Setiap helai uban yang diam-diam muncul di antara rambut hitamnya dan selalu berusaha dicabut Bu Nur setiap kali menemukannya di depan cermin.
Ia menggambar gang kecil di depan rumah, batu-batu yang tidak rata, got sempit dengan aliran air yang tenang, pohon mangga di ujung jalan yang daunnya selalu berguguran setiap bulan Juni, ia juga menggambar tangan ibunya yang sedang menjahit, jari-jari yang mulai berkerut di ujungnya, kuku-kuku pendek yang sering terbentur badan mesin jahit.
Suatu hari, Pak Aldi menemukan buku sketsa itu ketika Raihan tanpa sengaja meninggalkannya di atas meja kelas.
“Ini kamu yang gambar?” tanyanya.
“Iya, Pak.”
Pak Aldi membuka halaman demi halaman dengan hati-hati.
Lama, sangat lama, tanpa sepatah kata pun, Hingga akhirnya ia menutup buku itu dan menatap Fahmi.
“Fahmi,” katanya pelan, “kamu mau ikut lomba?
Bagian Keempat: Ibu
Lomba itu adalah Lomba Seni Lukis Tingkat Kota yang setiap tahun diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan. Pesertanya mencapai ratusan siswa dari berbagai sekolah. Tema yang diangkat tahun ini cukup sederhana, yaitu “Rumahku.”
Pak Aldi mendaftarkan Fahmi tanpa banyak penjelasan. Ia hanya mengucapkan satu kalimat yang terus teringat di kepala Fahmi.
“Gambar apa yang paling jujur. Ingat itu.”
Fahmi pulang dengan formulir pendaftaran di tangan dan jantung yang berdebar tidak menentu, malam itu, ia menceritakan semuanya kepada ibunya, bu Nur mendengarkan sambil memasang kancing pada kemeja pesanan pelanggan. Matanya tetap tertuju pada jahitan di tangannya, tetapi Fahmi tahu bahwa ibunya mendengar setiap kata yang ia ucapkan.
“Lomba lukis?” tanya Bu Nur.
“Iya, Bu.”
“Kamu mau ikut?”
“Pak Aldi yang daftarin. Fahmi mau coba.”
Bu Nur menghentikan pekerjaannya sejenak. Ia mengangkat wajah dan menatap putranya.
“Temanya apa?”
“Rumahku.”
Senyum tipis muncul di wajahnya. Tidak lebar, tidak berlebihan, tetapi hangat-sehangat nyala tungku kecil yang terus menyala meski malam semakin larut.
“Kalau begitu, gambar yang kamu suka, Nak,” katanya lembut. “Jangan gambar sesuatu hanya karena kamu pikir orang lain ingin melihatnya.”
Fahmi mengangguk.
Namun jauh di dalam pikirannya, ia sebenarnya sudah tahu apa yang akan ia gambar.
Selama dua minggu berikutnya, setiap malam setelah menyelesaikan tugas sekolah, Fahmi menghabiskan waktunya di meja belajar, ia tidak memiliki perlengkapan yang mewah, Kanvas yang digunakannya dipinjamkan oleh Pak Aldi, cat air yang ia pakai dibeli dari uang jajan yang sengaja ia sisihkan selama seminggu, dan yang ia gambar adalah ibunya, bukan sekadar wajahnya, melainkan potongan-potongan kenangan yang selama ini tersimpan di hatinya.
Ia melukis Bu Nur yang mengantarnya ke sekolah untuk pertama kali dengan motor tua mereka. Dari belakang, Fahmi masih ingat bagaimana punggung ibunya tampak tegak dan kuat, meskipun ia merasa perempuan itu sedang menahan tangis.
Ia melukis Bu Nur yang duduk di samping ranjang ketika ia terkena campak saat kelas dua SD. Perempuan itu berjaga hampir sepanjang malam, mengusap keringat di dahinya dengan handuk basah tanpa pernah mengeluh lelah.
Ia juga melukis Bu Nur yang tertawa begitu keras ketika Fahmi berhasil mengikat tali sepatunya sendiri untuk pertama kali. Bagi anak lain, hal itu mungkin biasa saja. Namun bagi Fahmi, keberhasilan kecil itu adalah hasil dari latihan yang berulang-ulang selama berminggu-minggu.
Semua kenangan itu kemudian ia satukan dalam sebuah lukisan besar.
Di tengah lukisan, tampak sosok seorang perempuan berdiri di depan jendela. Cahaya masuk dari belakang tubuhnya sehingga wajahnya tidak terlihat jelas. Namun di sekeliling sosok itu memancar kehangatan, seolah-olah matahari memilih tinggal di dalam rumah yang sama dengannya.
Di bagian bawah lukisan, dengan tulisan yang berusaha ia buat serapi mungkin, Fahmi menuliskan:
"Rumahku bukan tembok dan atap. Rumahku adalah orang yang selalu ada di dalamnya."
Malam sebelum hari lomba tiba, Fahmi tidak bisa tidur, bukan karena gugup menghadapi perlombaan, melainkan karena ia baru menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah benar-benar ia pikirkan.
Ia bangkit dari tempat tidur, lalu berjalan menuju kamar ibunya, Dan pintu kamar itu terbuka sedikit.
Bu Nur sudah tertidur, napasnya terdengar teratur, di bawah cahaya malam yang samar, wajahnya tampak lebih tua daripada yang biasanya Fahmi sadari di siang hari, ada garis-garis lelah yang selama ini luput dari perhatiannya, ada waktu yang diam-diam berjalan dan meninggalkan jejak pada perempuan yang selalu terlihat kuat itu.
Fahmi berdiri di ambang pintu selama beberapa saat, kemudian ia melangkah masuk dan duduk di lantai, di samping ranjang ibunya, dengan suara yang sangat pelan, hampir seperti bisikan untuk dirinya sendiri, ia berkata,
“Bu... makasih.” sambil menarik napas.
“Fahmi nggak tahu gimana cara ngomong yang lebih bagus dari itu. Tapi makasih.”
Bu Nur tidak terbangun, namun beberapa detik kemudian, tangannya bergerak perlahan, entah karena sadar atau tidak, Telapak tangan yang kasar karena bertahun-tahun bekerja itu jatuh tepat di atas kepala Fahmi. Diam, hangat, seolah menjadi doa yang tidak memerlukan kata-kata.
Fahmi menundukkan kepala, air mata kembali mengalir di pipinya, namun kali ini bukan tangis yang lahir dari kesedihan, bukan pula karena luka, melainkan tangis yang terasa ringan, tangis yang datang ketika hati akhirnya menemukan apa yang selama ini dicarinya. Seperti beban yang telah lama disimpan akhirnya menemukan tempat untuk dilepaskan.
Bagian Kelima: Hari Lomba
Gedung Dinas Pendidikan Kota hari itu dipenuhi oleh anak-anak dari berbagai sekolah. Kanvas dan papan gambar berjajar di sepanjang lorong. Aroma cat dan terpentin bercampur dengan riuh suara serta semangat para peserta yang datang membawa harapan mereka masing-masing.
Fahmi tiba bersama Pak Aldi, membawa sebuah tas berisi perlengkapan melukis yang telah ia siapkan sejak malam sebelumnya, dan Dimas juga datang, bukan sebagai peserta, melainkan sebagai penyemangat setia. Karena tidak diperbolehkan masuk ke ruang lomba, ia menunggu di luar gedung sambil membawa sebungkus kerupuk kesukaannya.
“Nanti menang, ya,” katanya dengan mulut yang masih sibuk mengunyah.
Fahmi tersenyum kecil, sambil berkata“belum tentu menang.”
“Ya nggak apa-apa,” jawab Dimas santai. “Yang penting udah berani ikut.”
Fahmi menatap sahabatnya sesaat.
Anak laki-laki yang rambutnya hampir selalu berantakan itu telah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Sejak kelas empat, Dimas tidak pernah sekalipun memperlakukannya berbeda. Tidak pernah memandangnya dengan rasa iba. Tidak pernah membuatnya merasa kurang dari anak-anak lain. Karena itulah, Dimas menjadi salah satu alasan mengapa Fahmi masih percaya bahwa dunia tidak sepenuhnya dihuni oleh orang-orang seperti Bram.
“Makasih, Dim.”
“Udah, sana masuk,” kata Dimas sambil melambaikan tangan. “Jangan jadi melow.”
Fahmi tersenyum tipis sebelum melangkah masuk ke dalam gedung.
Lomba berlangsung selama tiga jam, di hadapannya berdiri sebuah kanvas kosong yang perlahan mulai terisi warna demi warna, tangan kanannya bergerak dengan mantap, namun kali ini ia juga berusaha melibatkan tangan kirinya, tangan yang selama ini lebih lambat kini ia gunakan untuk membantu memegang kuas yang lebih besar dan mewarnai bidang-bidang yang luas. Pada awalnya tangannya sedikit gemetar, tetapi perlahan ketegangan itu menghilang.
Ia mulai tenggelam dalam lukisannya, berbeda dengan sketsa yang pernah ia kerjakan di rumah, kali ini Fahmi memilih menggambar sesuatu yang lebih sederhana, tetapi menyimpan makna yang jauh lebih dalam.
Ia melukis sebuah tangan, tangan ibunya, telapak tangan itu terbuka menghadap ke atas, di atasnya berdiri sebuah rumah kecil, bukan rumah yang besar atau mewah, hanya rumah sederhana dengan atap yang sedikit miring dan jendela kecil yang tampak hangat, dari cerobong rumah itu mengepul asap tipis yang membentuk rangkaian kata-kata. Dari kejauhan, tulisan itu tampak seperti garis-garis biasa, namun jika dilihat lebih dekat, kata-kata itu berbunyi:
Sabar, kuat, cinta, rumah.
Di sudut bawah lukisan, Fahmi menorehkan tanda tangannya, Sederhana. Namun kali ini terasa berbeda. Karena di balik nama itu tersimpan perjalanan panjang yang telah ia lalui.
Fahmi. Seorang anak dengan dua tangan yang tidak bekerja dengan cara yang sama, tetapi tetap mampu menciptakan sesuatu yang indah.
Pengumuman pemenang tidak dilakukan pada hari yang sama, hasil lomba baru akan diumumkan dua minggu kemudian. Dua minggu itu terasa jauh lebih panjang daripada seharusnya, seolah dua minggu berubah menjadi dua bulan. Meski begitu, kehidupan tetap berjalan seperti biasa. Fahmi tetap berangkat sekolah setiap pagi, tetap mengerjakan tugas-tugasnya, tetap membantu Bu Nur di rumah, dan ia hampir tidak pernah membicarakan lomba itu lagi.
Baginya, menang atau kalah tidak akan mengubah kenyataan bahwa hari esok tetap akan datang. Namun Bu Nur memperhatikan sesuatu yang berbeda pada putranya sejak hari lomba itu berlalu. Ada ketenangan yang sebelumnya tidak ada, ada keyakinan yang tumbuh perlahan.Cara Fahmi berjalan memang masih sama. Langkahnya masih sedikit pincang. Tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang kini tampak lebih tegak, lebih mantap.
Seperti pohon yang pernah ia gambar dahulu, pohon dengan batang yang bengkok, tetapi akhirnya menemukan caranya sendiri untuk berdiri menghadapi angin.
Bagian Keenam: Surat
Dua minggu kemudian, sebuah amplop putih dari Dinas Pendidikan tiba di rumah mereka. Dan Bu Nur yang menerimanya, kebetulan saat itu Raihan masih berada di sekolah. Ia meletakkan amplop tersebut di atas meja makan dan memilih tidak membukanya, surat itu ditujukan untuk Fahmi, dan ia ingin anaknya membacanya sendiri.
Sore harinya, Fahmi pulang dengan tas masih tergantung di punggung. Ujung seragamnya tampak sedikit kotor karena rantai sepedanya putus di tengah jalan sehingga ia harus mendorong sepeda itu hampir separuh perjalanan pulang. Begitu memasuki rumah, matanya langsung tertuju pada amplop putih yang tergeletak di atas meja, Ia berhenti melangkah.
“Dari kapan, Bu?” tanyanya.
“Tadi siang.”
“Ibu udah buka?”
Bu Nur menggeleng, sambil berkata “Belum. Itu suratmu.”
Raihan menarik kursi dan duduk perlahan, dan amplop itu tergeletak tepat di depannya, Jantungnya berdebar lebih cepat daripada yang ingin ia akui, dengan tangan kanannya yang lebih cekatan, ia membuka lipatan amplop dan mengeluarkan selembar surat dari dalamnya, Ia mulai membaca, sekali, lalu membacanya lagi, dan sekali lagi. Di dapur, Bu Nur berpura-pura sibuk mengupas bawang, namun sesekali matanya melirik ke arah meja makan, mencoba menebak isi surat dari raut wajah anaknya, lalu ia melihat sesuatu yang jarang sekali ia lihat, yaitu Fahmi menangis, bukan tangis yang pecah dalam isak, bukan pula tangis yang keras. Air mata itu hanya mengalir perlahan di pipinya, sementara senyum lebar terbentuk di wajahnya.
“Fahmi?” panggil Bu Nur pelan.
Fahmi mengangkat kepala, matanya memerah, Namun senyumnya begitu lebar.
“Fahmi juara dua, Bu.”
Sejenak Bu Nur terdiam. Lalu ia meletakkan bawang yang masih berada di tangannya dan berjalan menghampiri meja makan, Surat itu ia ambil perlahan, Ia membacanya dengan saksama, mengeja beberapa bagian dalam hati, membaca memang bukan hal yang mudah baginya. Ia terbiasa membaca perlahan, kata demi kata. Ketika selesai, ia memandang putranya, kemudian tanpa berkata apa-apa, ia memeluknya erat, beberapa saat mereka hanya diam, dua orang yang berdiri di dapur rumah sederhana bercat kuning pucat, dua orang yang sama-sama menahan haru, sementara aroma bawang masih mengambang di udara dan jam dinding terus berdetak seakan dunia berjalan seperti biasa.
“Ibu bangga,” bisik Bu Nur akhirnya.
Fahmi menunduk, dan berkata“Raihan cuma juara dua, Bu.”
Bu Nur perlahan melepaskan pelukannya, ia menatap wajah anaknya wajah yang telah ia kenal sejak pertama kali ia melihatnya di ruang bersalin, wajah yang lebih ia hafal daripada wajahnya sendiri.
“Ibu bangga bukan karena kamu juara dua, Nak.”Suaranya lembut, tetapi tegas.
“Ibu bangga karena kamu berani mencoba. Karena kamu nggak menunggu jadi sempurna dulu untuk melangkah.”
Fahmi terdiam.
“Ibu bangga karena selama ini kamu terus jalan, meskipun jalannya lebih berat daripada kebanyakan orang.”
Mata Fahmi kembali berkaca-kaca.
Dan untuk pertama kalinya, penghargaan yang ia terima terasa bukan sekadar tentang sebuah lomba, melainkan tentang semua langkah kecil yang telah membawanya sampai ke titik itu.
Bagian Ketujuh: Pameran
Dinas Pendidikan kemudian mengadakan pameran karya dari seluruh pemenang lomba, mulai dari juara satu hingga juara tiga di setiap kategori dan jenjang pendidikan. Lukisan Fahmi termasuk salah satu karya yang akan dipajang selama satu minggu di aula Gedung Kebudayaan Kota. Kabar itu disampaikan langsung oleh Pak Aldi, bahkan, pada malam pembukaan pameran, ia sendiri yang mengantar Fahmi dan Bu Nur ke lokasi acara, malam itu, Bu Nur mengenakan baju batik terbaik yang selama ini hanya ia pakai untuk acara-acara penting, sementara Fahmi mengenakan kemeja putih yang telah disetrika rapi oleh ibunya sejak pagi, ketika mereka memasuki aula, cahaya lampu sorot menerangi setiap sudut ruangan. Puluhan karya dari anak-anak berbakat se-kota terpajang dengan rapi di sepanjang dinding. Dan di antara semua karya itu, tergantung sebuah lukisan yang sangat dikenalnya.
Lukisannya.
Sebuah tangan terbuka, sebuah rumah kecil yang bertumpu di atas telapak tangan itu, dan kepulan asap yang membentuk kata-kata sederhana namun penuh makna, di bawahnya terpasang sebuah plakat kecil bertuliskan
Juara II – Kategori SMP, Raihan Maulana SMPN Bandung
Bu Nur berdiri di depan lukisan itu cukup lama, Sangat lama, seolah ia sedang membaca sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar gambar dan warna.
Di sekeliling mereka, orang-orang terus berlalu-lalang, ada yang berhenti sejenak, Ada yang membaca plakat, ada pula yang memandangi lukisan itu dengan tatapan penuh perhatian, bukan hanya karena tekniknya, melainkan karena mereka seperti menemukan sebuah cerita di dalamnya, seorang ibu muda yang berdiri tidak jauh dari Bu Nur menatap lukisan itu beberapa saat sebelum berbisik kepada suaminya,
“Lihat, Mas. Rumahnya ada di telapak tangan ibunya. Dalam sekali maknanya.”
Bu Nur sempat menoleh ke arah pasangan itu, lalu kembali menatap lukisan di hadapannya, matanya tidak benar-benar berkaca-kaca, tidak ada air mata yang jatuh, namun di sudut matanya tersimpan kilau tipis yang hanya dapat dilihat oleh mereka yang berdiri cukup dekat dan cukup memperhatikan, di sampingnya, Fahmi berdiri dalam diam, tangan kanannya menggenggam tangan ibunya erat, sementara tangan kirinya, tangan yang bergerak lebih lambat, yang dahulu sering membuatnya merasa berbeda, yang pernah menjadi alasan mengapa ia menangis diam-diam hingga kehabisan air mata, tergantung tenang di sisi tubuhnya. Namun malam itu, untuk pertama kalinya, ia tidak memandang tangan itu sebagai kekurangan, justru tangan itulah yang telah mengajarkannya arti kesabaran, tangan itu yang membuatnya memahami bahwa tidak semua hal harus dilakukan secepat orang lain, tangan itu pula yang menuntunnya belajar menerima dirinya sendiri, dan tanpa ia sadari, semua perjalanan itu telah membawanya sampai ke titik ini, berdiri di depan karya yang lahir dari hatinya sendiri, di bawah cahaya yang terang, di tengah orang-orang yang menghargai apa yang telah ia ciptakan, dan di samping sosok yang selama ini tidak pernah berhenti percaya kepadanya, yaitu ibunya.
Bagian Kedelapan: Apa yang Tidak Sempurna
Setahun kemudian, Fahmi diminta menulis sebuah esai untuk majalah sekolah tentang pengalamannya mengikuti lomba melukis. Suatu sore, ia kembali duduk di meja belajar yang sama, lampu belajar yang sama masih menerangi sudut kamarnya dengan cahaya kekuningan yang hangat, di hadapannya terbuka layar komputer, dan jemarinya mulai mengetik perlahan, lalu Ia menulis:
"Aku pernah membenci kondisiku sendiri.
Aku pernah membenci cara jalanku yang tidak sama seperti anak-anak lain. Membenci tanganku yang tidak bergerak seimbang. Membenci kata-kata yang kadang tersangkut di tengah kalimat ketika aku terlalu bersemangat atau gugup.
Aku pernah bertanya mengapa Tuhan memberikan semua ini kepadaku.
Namun, aku tidak pernah mendapatkan jawaban yang datang begitu saja. Tidak ada suara dari langit. Tidak ada mimpi yang menjelaskan segalanya.
Yang ada hanyalah seorang ibu yang setiap pagi mengetuk pintuku tiga kali dan berkata, “Hari ini hari baru.”
Yang ada hanyalah seorang sahabat yang menyamakan tangan kiriku dengan koneksi internet yang lemot dan membuatku tertawa pada hal yang selama ini membuatku sedih.
Yang ada hanyalah seorang guru yang mengajarkanku bahwa pohon yang bengkok tidak selalu lebih buruk daripada pohon yang lurus.
Tubuhku memang tidak sempurna, jalanku tidak lurus, tulisanku tidak selalu rapi, Dan ada hari-hari ketika semuanya terasa sangat berat.
Tetapi perlahan aku belajar percaya bahwa Tuhan tidak pernah membuat kesalahan. Bahwa setiap manusia memiliki jalan yang berbeda untuk sampai pada tujuan yang sama. Dan bahwa sempurna bukan berarti tidak memiliki kekurangan.
Sempurna adalah ketika seseorang mampu menerima dirinya secara utuh, termasuk bagian-bagian yang tidak pernah ia pilih.
Aku tidak sempurna.
Tetapi aku percaya Tuhan menciptakanku dengan sempurna menurut cara-Nya sendiri, cara yang mungkin tidak selalu kupahami, tetapi kini mulai kupercaya."
Esai itu dimuat dalam majalah sekolah edisi Desember.
Ketika majalah tersebut sampai di rumah, Bu Nur membacanya di dapur sambil menunggu air mendidih untuk membuat teh. Ia membacanya perlahan, lembar demi lembar, kalimat demi kalimat, lalu membacanya lagi, dan sekali lagi, bukan karena tulisannya sulit dipahami, melainkan karena ia memang tidak terbiasa membaca dengan cepat, Setelah selesai, ia menutup majalah itu dengan hati-hati dan meletakkannya di atas meja, ia menuangkan teh ke dalam cangkir, lalu membawa cangkir itu ke kursi yang paling dekat dengan jendela, dari sana, ia bisa melihat gang kecil di depan rumah mereka, jalan sempit dengan batu-batu yang tidak rata, got kecil yang airnya mengalir tenang, dan pohon mangga di ujung gang yang daunnya mulai berguguran satu per satu. Bu Nur memandangi pemandangan itu cukup lama, tidak ada air mata yang jatuh, tidak ada tangis haru seperti yang sering digambarkan dalam cerita, yang ada hanyalah senyum tipis yang perlahan menghiasi wajahnya, Senyum yang tenang, senyum seorang ibu yang selama bertahun-tahun menanam harapan dalam diam, senyum seseorang yang akhirnya melihat bahwa setiap doa, setiap perjuangan, dan setiap malam yang dilewati dengan penuh kekhawatiran ternyata tidak pernah sia-sia, karena pada akhirnya, ia tahu satu hal, Doa-doa yang paling tulus tidak selalu dijawab dengan cara yang cepat, Tetapi selalu menemukan jalannya sendiri untuk sampai.
Setahun kemudian, Fahmi diminta menulis sebuah esai untuk majalah sekolah tentang pengalamannya mengikuti lomba melukis. Suatu sore, ia kembali duduk di meja belajar yang sama, lampu belajar yang sama masih menerangi sudut kamarnya dengan cahaya kekuningan yang hangat, di hadapannya terbuka layar komputer, dan jemarinya mulai mengetik perlahan, lalu Ia menulis:
"Aku pernah membenci kondisiku sendiri.
Aku pernah membenci cara jalanku yang tidak sama seperti anak-anak lain. Membenci tanganku yang tidak bergerak seimbang. Membenci kata-kata yang kadang tersangkut di tengah kalimat ketika aku terlalu bersemangat atau gugup.
Aku pernah bertanya mengapa Tuhan memberikan semua ini kepadaku.
Namun, aku tidak pernah mendapatkan jawaban yang datang begitu saja. Tidak ada suara dari langit. Tidak ada mimpi yang menjelaskan segalanya.
Yang ada hanyalah seorang ibu yang setiap pagi mengetuk pintuku tiga kali dan berkata, “Hari ini hari baru.”
Yang ada hanyalah seorang sahabat yang menyamakan tangan kiriku dengan koneksi internet yang lemot dan membuatku tertawa pada hal yang selama ini membuatku sedih.
Yang ada hanyalah seorang guru yang mengajarkanku bahwa pohon yang bengkok tidak selalu lebih buruk daripada pohon yang lurus.
Tubuhku memang tidak sempurna, jalanku tidak lurus, tulisanku tidak selalu rapi, Dan ada hari-hari ketika semuanya terasa sangat berat.
Tetapi perlahan aku belajar percaya bahwa Tuhan tidak pernah membuat kesalahan. Bahwa setiap manusia memiliki jalan yang berbeda untuk sampai pada tujuan yang sama. Dan bahwa sempurna bukan berarti tidak memiliki kekurangan.
Sempurna adalah ketika seseorang mampu menerima dirinya secara utuh, termasuk bagian-bagian yang tidak pernah ia pilih.
Aku tidak sempurna.
Tetapi aku percaya Tuhan menciptakanku dengan sempurna menurut cara-Nya sendiri, cara yang mungkin tidak selalu kupahami, tetapi kini mulai kupercaya."
Esai itu dimuat dalam majalah sekolah edisi Desember.
Ketika majalah tersebut sampai di rumah, Bu Nur membacanya di dapur sambil menunggu air mendidih untuk membuat teh. Ia membacanya perlahan, lembar demi lembar, kalimat demi kalimat, lalu membacanya lagi, dan sekali lagi, bukan karena tulisannya sulit dipahami, melainkan karena ia memang tidak terbiasa membaca dengan cepat, Setelah selesai, ia menutup majalah itu dengan hati-hati dan meletakkannya di atas meja, ia menuangkan teh ke dalam cangkir, lalu membawa cangkir itu ke kursi yang paling dekat dengan jendela, dari sana, ia bisa melihat gang kecil di depan rumah mereka, jalan sempit dengan batu-batu yang tidak rata, got kecil yang airnya mengalir tenang, dan pohon mangga di ujung gang yang daunnya mulai berguguran satu per satu. Bu Nur memandangi pemandangan itu cukup lama, tidak ada air mata yang jatuh, tidak ada tangis haru seperti yang sering digambarkan dalam cerita, yang ada hanyalah senyum tipis yang perlahan menghiasi wajahnya, Senyum yang tenang, senyum seorang ibu yang selama bertahun-tahun menanam harapan dalam diam, senyum seseorang yang akhirnya melihat bahwa setiap doa, setiap perjuangan, dan setiap malam yang dilewati dengan penuh kekhawatiran ternyata tidak pernah sia-sia, karena pada akhirnya, ia tahu satu hal, Doa-doa yang paling tulus tidak selalu dijawab dengan cara yang cepat, Tetapi selalu menemukan jalannya sendiri untuk sampai.
Epilog
Bertahun-tahun kemudian, ketika Fahmi telah dewasa dan bekerja sebagai ilustrator buku anak-anak, profesi yang dulu tidak pernah ia bayangkan bisa diraih oleh tangannya sendiri, ia masih mempertahankan satu kebiasaan yang tidak pernah berubah. Setiap pagi, ia mengetuk pintu kamar ibunya tiga kali, lalu masuk sambil membawa segelas air putih hangat, dan mengucapkan kalimat yang telah menemaninya sepanjang hidup.
“Bangun, Bu. Hari ini hari baru.”
Bu Nur, yang kini rambutnya lebih banyak berwarna putih daripada hitam, membuka mata perlahan, tangannya semakin berkerut dimakan usia, tetapi tetap menjadi tangan yang sama, tangan yang tidak pernah berhenti bekerja, tidak pernah berhenti memberi.
Melihat putranya berdiri di depan pintu, ia tersenyum.
“Kamu masih ingat juga.”
Fahmi ikut tersenyum, sambil berkata“Dari dulu Fahmi selalu ingat, Bu.”
Ia meletakkan gelas di atas nakas, lalu duduk di tepi ranjang, persis seperti yang dulu dilakukan ibunya ketika ia masih kecil, ketika ia menangis karena pertanyaan-pertanyaan yang tidak mampu dijawab siapa pun, ketika dunia terasa terlalu berat untuk dipahami.
“Bu, boleh tanya sesuatu?”
“Tentu.”
Fahmi terdiam sejenak sebelum akhirnya bertanya,“Ibu pernah nyesel nggak punya anak kayak Fahmi?”
Bu Nur menatap putranya, anak laki-laki yang kini jauh lebih tinggi darinya, anak yang matanya masih menyimpan kelembutan yang sama seperti saat kecil, anak yang cara duduknya masih sedikit condong ke kiri, kebiasaan lama yang tak pernah benar-benar hilang, beberapa detik berlalu sebelum Bu Nur menjawab.
“Pernah.”
Fahmi terdiam, jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. Namun Bu Nur melanjutkan kalimatnya.
“Ibu pernah nyesel karena nggak bisa kasih kamu lebih banyak.” berbicara dengan suaranya tenang dan lembut.
“Terlalu banyak hal yang dulu nggak mampu Ibu lakukan. Ibu nggak bisa bayar terapi yang lebih baik, nggak bisa beliin kamu sepatu yang paling nyaman, nggak bisa selalu melindungi kamu dari orang-orang yang menyakitimu.”
Ia menunduk sebentar.
“Itu yang Ibu sesali.”
Fahmi menatap ibunya. Dan berkata “Bukan karena kondisi Fahmi?”
“Tidak pernah.”jawabannya datang tanpa jeda, tanpa keraguan sedikit pun, “Tidak sedetik pun.”
Fahmi menundukkan kepala. Satu tetes air mata jatuh ke punggung tangannya. Tangan kiri yang bergerak lebih lambat. Tangan yang selama bertahun-tahun pernah ia anggap sebagai kekurangannya. Perlahan, ia menggenggam tangan ibunya. Dua tangan yang berbeda usia. Dua tangan yang berbeda kekuatannya. Namun sama-sama hangat. Di luar jendela, pagi di Bandung sedang cerah. Sinar matahari masuk melalui celah gorden yang tidak tertutup rapat.Dari gang kecil terdengar suara motor yang lewat, tawa anak-anak yang berlarian, dan berbagai bunyi kehidupan yang terus bergerak tanpa pernah bertanya siapa yang sempurna dan siapa yang tidak. Di dalam kamar sederhana itu, seorang ibu dan anak duduk berdampingan dalam keheningan yang menenangkan. Mereka telah menghabiskan bertahun-tahun untuk memahami satu hal yang sama bahwa kesempurnaan bukanlah hidup tanpa kekurangan. Bukan pula tentang tubuh yang tanpa cacat. Kesempurnaan adalah kemampuan untuk tetap utuh meskipun pernah terluka. Tetap berdiri meskipun pernah goyah. Tetap melangkah meskipun langkahnya tidak selalu mudah. Karena hidup tidak selalu meminta seseorang menjadi sempurna. Kadang hidup hanya meminta seseorang untuk terus berjalan. Dan Fahmi akhirnya mengerti sesuatu yang dahulu begitu sulit ia pahami. Bahwa Tuhan tidak pernah keliru ketika menciptakan manusia. Terkadang cara-Nya memang tidak langsung dapat dimengerti. Namun ketika seseorang menoleh ke belakang setelah menempuh perjalanan yang panjang, ia akan melihat bahwa setiap luka, setiap keterbatasan, setiap air mata, dan setiap perjuangan telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang sekarang. Semua itu perlu. Semua itu memiliki makna. Dan semuanya indah dengan caranya sendiri. Asal kita cukup sabar untuk melihatnya.
Quotes
Tuhan tidak selalu memberikan jalan yang mudah, tetapi sering kali melalui jalan yang sulit untuk seseorang menemukan kekuatan yang tidak pernah ia tahu ada dalam dirinya. Apa yang terlihat sebagai keterbatasan hari ini bisa menjadi alasan seseorang menjadi lebih sabar, lebih kuat, dan lebih bijaksana di kemudian hari. Oleh karena itu, hidup bukan tentang menyesali apa yang tidak kita miliki, melainkan tentang belajar mensyukuri apa yang telah dipercayakan kepada kita dan menggunakannya sebaik mungkin dengan hati yang tulus.
Sering kali, jawaban atas pertanyaan hidup tidak datang dalam satu malam atau melalui peristiwa yang luar biasa. Jawaban itu hadir secara perlahan, melalui orang-orang yang tetap tinggal ketika yang lain pergi, melalui tangan yang selalu siap menolong ketika kita terjatuh, dan melalui hari-hari biasa yang mengajarkan bahwa harapan selalu ada meskipun langkah terasa berat. Pada akhirnya, kebahagiaan bukanlah ketika semua kekurangan hilang, melainkan ketika kita mampu berdamai dengan diri kita sendiri dan menyadari bahwa setiap luka, perjuangan, dan air mata telah menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk siapa diri kita hari ini. Karena setiap kehidupan memiliki kisahnya sendiri, dan setiap kisah memiliki keindahan.
Bertahun-tahun kemudian, ketika Fahmi telah dewasa dan bekerja sebagai ilustrator buku anak-anak, profesi yang dulu tidak pernah ia bayangkan bisa diraih oleh tangannya sendiri, ia masih mempertahankan satu kebiasaan yang tidak pernah berubah. Setiap pagi, ia mengetuk pintu kamar ibunya tiga kali, lalu masuk sambil membawa segelas air putih hangat, dan mengucapkan kalimat yang telah menemaninya sepanjang hidup.
“Bangun, Bu. Hari ini hari baru.”
Bu Nur, yang kini rambutnya lebih banyak berwarna putih daripada hitam, membuka mata perlahan, tangannya semakin berkerut dimakan usia, tetapi tetap menjadi tangan yang sama, tangan yang tidak pernah berhenti bekerja, tidak pernah berhenti memberi.
Melihat putranya berdiri di depan pintu, ia tersenyum.
“Kamu masih ingat juga.”
Fahmi ikut tersenyum, sambil berkata“Dari dulu Fahmi selalu ingat, Bu.”
Ia meletakkan gelas di atas nakas, lalu duduk di tepi ranjang, persis seperti yang dulu dilakukan ibunya ketika ia masih kecil, ketika ia menangis karena pertanyaan-pertanyaan yang tidak mampu dijawab siapa pun, ketika dunia terasa terlalu berat untuk dipahami.
“Bu, boleh tanya sesuatu?”
“Tentu.”
Fahmi terdiam sejenak sebelum akhirnya bertanya,“Ibu pernah nyesel nggak punya anak kayak Fahmi?”
Bu Nur menatap putranya, anak laki-laki yang kini jauh lebih tinggi darinya, anak yang matanya masih menyimpan kelembutan yang sama seperti saat kecil, anak yang cara duduknya masih sedikit condong ke kiri, kebiasaan lama yang tak pernah benar-benar hilang, beberapa detik berlalu sebelum Bu Nur menjawab.
“Pernah.”
Fahmi terdiam, jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. Namun Bu Nur melanjutkan kalimatnya.
“Ibu pernah nyesel karena nggak bisa kasih kamu lebih banyak.” berbicara dengan suaranya tenang dan lembut.
“Terlalu banyak hal yang dulu nggak mampu Ibu lakukan. Ibu nggak bisa bayar terapi yang lebih baik, nggak bisa beliin kamu sepatu yang paling nyaman, nggak bisa selalu melindungi kamu dari orang-orang yang menyakitimu.”
Ia menunduk sebentar.
“Itu yang Ibu sesali.”
Fahmi menatap ibunya. Dan berkata “Bukan karena kondisi Fahmi?”
“Tidak pernah.”jawabannya datang tanpa jeda, tanpa keraguan sedikit pun, “Tidak sedetik pun.”
Fahmi menundukkan kepala. Satu tetes air mata jatuh ke punggung tangannya. Tangan kiri yang bergerak lebih lambat. Tangan yang selama bertahun-tahun pernah ia anggap sebagai kekurangannya. Perlahan, ia menggenggam tangan ibunya. Dua tangan yang berbeda usia. Dua tangan yang berbeda kekuatannya. Namun sama-sama hangat. Di luar jendela, pagi di Bandung sedang cerah. Sinar matahari masuk melalui celah gorden yang tidak tertutup rapat.Dari gang kecil terdengar suara motor yang lewat, tawa anak-anak yang berlarian, dan berbagai bunyi kehidupan yang terus bergerak tanpa pernah bertanya siapa yang sempurna dan siapa yang tidak. Di dalam kamar sederhana itu, seorang ibu dan anak duduk berdampingan dalam keheningan yang menenangkan. Mereka telah menghabiskan bertahun-tahun untuk memahami satu hal yang sama bahwa kesempurnaan bukanlah hidup tanpa kekurangan. Bukan pula tentang tubuh yang tanpa cacat. Kesempurnaan adalah kemampuan untuk tetap utuh meskipun pernah terluka. Tetap berdiri meskipun pernah goyah. Tetap melangkah meskipun langkahnya tidak selalu mudah. Karena hidup tidak selalu meminta seseorang menjadi sempurna. Kadang hidup hanya meminta seseorang untuk terus berjalan. Dan Fahmi akhirnya mengerti sesuatu yang dahulu begitu sulit ia pahami. Bahwa Tuhan tidak pernah keliru ketika menciptakan manusia. Terkadang cara-Nya memang tidak langsung dapat dimengerti. Namun ketika seseorang menoleh ke belakang setelah menempuh perjalanan yang panjang, ia akan melihat bahwa setiap luka, setiap keterbatasan, setiap air mata, dan setiap perjuangan telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang sekarang. Semua itu perlu. Semua itu memiliki makna. Dan semuanya indah dengan caranya sendiri. Asal kita cukup sabar untuk melihatnya.
Quotes
Tuhan tidak selalu memberikan jalan yang mudah, tetapi sering kali melalui jalan yang sulit untuk seseorang menemukan kekuatan yang tidak pernah ia tahu ada dalam dirinya. Apa yang terlihat sebagai keterbatasan hari ini bisa menjadi alasan seseorang menjadi lebih sabar, lebih kuat, dan lebih bijaksana di kemudian hari. Oleh karena itu, hidup bukan tentang menyesali apa yang tidak kita miliki, melainkan tentang belajar mensyukuri apa yang telah dipercayakan kepada kita dan menggunakannya sebaik mungkin dengan hati yang tulus.
Sering kali, jawaban atas pertanyaan hidup tidak datang dalam satu malam atau melalui peristiwa yang luar biasa. Jawaban itu hadir secara perlahan, melalui orang-orang yang tetap tinggal ketika yang lain pergi, melalui tangan yang selalu siap menolong ketika kita terjatuh, dan melalui hari-hari biasa yang mengajarkan bahwa harapan selalu ada meskipun langkah terasa berat. Pada akhirnya, kebahagiaan bukanlah ketika semua kekurangan hilang, melainkan ketika kita mampu berdamai dengan diri kita sendiri dan menyadari bahwa setiap luka, perjuangan, dan air mata telah menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk siapa diri kita hari ini. Karena setiap kehidupan memiliki kisahnya sendiri, dan setiap kisah memiliki keindahan.