Musim yang Tidak Sempat Tiba

 Musim Yang Tidak Sempat Tiba
Oleh: Siti Nuraisah 

Pertama kali bertemu dengannya, aku tidak mencatat tanggalnya.

Tidak ada yang istimewa hari itu. Tidak ada hujan yang tiba-tiba turun, tidak ada lagu yang terdengar tepat pada waktunya, apalagi firasat bahwa seseorang akan tinggal cukup lama di hidupku.

Kami hanya dua orang asing yang kebetulan menemukan satu sama lain di tempat yang tidak pernah kami rencanakan. 

Namanya kemudian tersimpan di antara banyak nama lain di ponselku. 

Awalnya begitu saja. Sampai suatu hari, namanya mulai menjadi salah satu yang paling sering muncul.

“Udah makan?”

Pertanyaan sederhana.

Kadang kujawab panjang, kadang hanya dengan foto makanan di depanku.

“Udah.”

Lalu dia membalas sesuatu yang tidak penting.

Aku membalas lagi.

Begitu terus.

Percakapan kami tumbuh dari hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu diceritakan kepada siapa pun. Tentang hari yang melelahkan, tentang orang-orang yang kami temui, tentang keluarga, tentang rencana yang belum tentu terjadi. Sesekali kami berbicara sampai lupa waktu.

Aku mulai terbiasa dengan keberadaannya.

Mungkin terlalu terbiasa.

Aku hafal kapan biasanya dia muncul. Tahu bagaimana nada bicaranya ketika sedang lelah. Tahu beberapa cerita yang jarang ia ceritakan kepada orang lain. Sebaliknya, tanpa sadar, aku juga mulai membiarkannya masuk ke bagian-bagian hidupku yang biasanya kukunci.

Tapi ada satu hal yang tidak pernah kami bicarakan.

Tentang kami.

Barangkali karena memang tidak ada “kami” yang perlu dibicarakan.

Kami tidak pernah berjanji.

Tidak pernah saling meminta untuk menunggu.

Tidak pernah mengatakan akan menjadi apa setelah ini.

Hanya ada kedekatan yang tumbuh begitu saja, lalu membuatku bertanya-tanya sendirian.

Suatu malam, setelah percakapan yang cukup panjang, aku menatap layar ponsel yang kembali gelap.

Aku ingin bertanya.

Sebenarnya, kita ini apa?

Jempolku sempat mengetik kalimat itu.

Lalu kuhapus.

Aku mengulanginya.

Kuhapus lagi.

Pada akhirnya, yang terkirim hanya:

“udah tidur?”

Dia membalas beberapa menit kemudian.

“belum.”

Dan percakapan kami kembali berjalan seperti biasa.

Begitulah caraku mengetahui bahwa beberapa pertanyaan memang lebih aman untuk disimpan sendiri.

Waktu berlalu.

Kami sempat menjadi lebih dekat, lalu sedikit menjauh. Ada hari-hari ketika kami begitu sering berbicara sampai aku merasa keberadaannya adalah sesuatu yang pasti. Ada pula hari-hari ketika balasannya datang lebih lama dan aku mulai bertanya apakah aku sedang kehilangan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah menjadi milikku.

Lucu.

Aku bisa merasa kehilangan seseorang yang tidak pernah benar-benar kupunya.

Namun, mungkin memang begitu cara perasaan bekerja.

Ia tidak selalu menunggu kepastian. Sampai akhirnya aku berhenti menunggu. Bukan karena aku sudah tidak peduli. Aku hanya mulai mengerti bahwa seseorang tidak harus menjadi milik kita untuk menjadi berarti.

Sekarang, kalau kami berbicara, rasanya berbeda.

Tidak ada lagi keinginan untuk mencari arti dari setiap perhatian. Tidak ada lagi kebiasaan menghitung seberapa cepat ia membalas pesan. Tidak ada lagi pertanyaan tentang apakah suatu hari nanti kami akan menjadi sesuatu.

Kami hanya dua orang yang saling mengenal. Benar-benar mengenal.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa hubungan kami kurang hanya karena tidak memiliki nama yang pernah kuharapkan.

Kami berteman. Sederhana sekali.

Ternyata sesuatu yang dulu begitu sulit kuterima bisa terasa begitu ringan ketika akhirnya kujalani.

Kadang-kadang aku masih mengingat masa ketika semuanya terasa seperti kemungkinan.

Bukan dengan penyesalan.

Hanya dengan senyum kecil.

Sebab aku pernah berharap.

Dan tidak semua harapan harus diwujudkan untuk menjadi sesuatu yang indah.

Mungkin dia memang bukan seseorang yang datang untuk kugenggam.

Mungkin dia hanya seseorang yang datang untuk menunjukkan bahwa dua orang bisa saling berarti tanpa harus saling memiliki.

Dan mungkin, selama ini, aku tidak sedang belajar melepaskannya.

Aku hanya sedang belajar menerima bahwa aku tidak pernah benar-benar menggenggamnya.

Hari ini, kalau namanya muncul di layar ponselku, aku tidak lagi bertanya-tanya apa artinya.

Aku membuka pesannya.

Membaca.

Lalu tersenyum.

“Mau main keluar?”

Aku mengetik jawabanku.

“Boleh, yuk!”

Percakapan sederhana itu kembali berjalan.

Tidak ada janji. Tidak ada kepastian.

Hanya dua orang yang masih memilih untuk saling menyapa di antara hidup mereka masing-masing.

Dan entah kenapa, kali ini, itu sudah cukup.