Amaranthine
Tak ada yang menyangka jika malam itu, akan menjadi malam terakhir aku untuk melihatnya. Segala angan serta mimpi yang kita bangun bersama perlahan pupus selaras dengan datangnya suara gemuruh dari arah barat. Seolah langit ikut merasakan pedih dan dalamnya rasa kehilangan ini. Suasana sekitar masih ramai, tapi mengapa aku seolah sendiri?
Puluhan kata sabar sudah terucap. Tatapan iba menyoroti diri ini.
Aku tak apa. Tapi, bolehkah aku istirahat sejenak? Sebab semua masih terasa seperti mimpi.
Sekelebat bayangan mengenai hariku yang terisi penuh dengannya kembali menyeruak masuk. Ingatan tentang betapa banyaknya harapan serta impian yang belum kita taklukan masih belum tercapai. Bagaimana dengan candaannya yang selalu membuatku tertawa. Dengan tingkahnya yang sulit untuk aku imbangi. Semua bagian tentangnya masih terasa nyata. Seperti tanah basah yang ada di hadapanku ini bukan apa.
Saat kehilangan, tak ada lagi tempat yang membuatku takut. Rasa takut ini sudah ikut terkubur bersamaan saat aku harus melihatmu terdiam kala tanah menutupi ruang korespondensi yang kita bangun selama ini.
Tak semua terhenti disini.
Bagiku, kamu tetap mempunyai ruang istimewa. Meski jiwamu tak dapat ku genggam, namun raga itu akan selalu membersamaiku. Memang tak terlihat, namun terasa.
Beristirahatlah dengan tenang. Tak usah risau akan impianmu. Aku akan melanjutkannya, meski harus bertapak seorang diri. Doaku selalu menyertaimu, wahai Amaranthine.