Melepas untuk Menjaga
Oleh : Rahmayanti
Tentang,
Rasa dan Asa,
Ego dan Mimpi.
Ada suatu kalimat, "Allah tidak pernah salah mempertemukan kamu dengan seseorang,
hadirnya membawa salah satu di antara dua hadiah untukmu, yaitu kebahagiaan atau
pengalaman" -Imam Ghazali.
Lalu, bagaimana dengan dua kali pertemuan yang tidak disengaja? Mungkinkah pertemuan
ini memang kebetulan atau takdir? Aku tidak tahu.
Sepertinya ini menjadi awal pengalaman cinta bagiku. Ini kisah nyata. Sejak aku memulai
kehidupan perantauan, sejak saat itu pula aku bertemu denganmu. Pertemuan kita tidak
direncanakan, bahkan hingga dua kali pertemuan di kereta dan di bangku yang sama, kita
saling berhadapan dengan orang tua kita.
Kau hadir dengan sayu-nya kedua matamu, mata kebaikan yang selalu kau sebar kepada
setiap orang yang kau temui. Kau menawarkan tempat untuk aku bisa meluapkan apa yang
selalu ku pendam sendiri. Dan, kau memberiku ketenangan di setiap cerita yang aku bawa.
Telingamu menjadi ruang aman, tempat suaraku diterima tanpa dihakimi. Kita saling
mengenal dengan jarak yang ada pada layar yang kita genggam. Kita saling mendukung,
menerima segala rasa dan memeluk segala lara.
Namun, kau tahu bahwa cinta sendiri tidak bisa diambil dengan cara yang tidak baik. Cinta
pun memiliki aturan, aku terkadang lupa bahwa diriku sendiri ini bukan milikku. Semua
milik-Nya. Kita mengambil langkah yang tidak biasa di kala nafsu manusiawi mulai
mengambil alih. Tetapi dengan bijaksana-nya kau menghentikan komunikasi kita.
Kau berkata "Mayy.... Aku ga takut kehilangan kamu, tapi aku takut kita mati dalam keadaan
terikat perasaan yang Allah ga ridho didalamnya. Suara kamu ketika bercerita, pikiran aku
tentang kamu, chat yang membuat aku merasa semangat, godaan setan pasti selalu ada walau
pikir kita hal itu normal, godaan setan bekerja secara perlahan sampai kita merasa hal itu
lazim.
Mungkin sementara waktu, apa yang kita bangun, kini saatnya untuk padam, pesanmu
mungkin hanya aku baca, selain hal yang benar-benar urgent. kini semua keluh kesahku
hanya aku sampaikan kepada Allah sebagai Tuhan yang Maha Mendengar, ibu aku sudah
rentan. Doa sepanjang masa buat mamah, bapak, semua keluarga, terutama untuk kamu, sehat
selalu, selalu terjaga dalam lindungan, lindungannya Sang Maha Pelindung.
Kini kita menabung kisah, tuk kita ceritakan diwaktu yang tepat, jika tidak saling berkisah di
dunia, kita bisa saling berkisah di surga."
Begitupun sebaliknya, aku tidak pernah berharap pada siapapun kecuali pada Allah. Semua
jalan dan pertemuan sudah dirancang dan aku bersyukur atas semua hal yang aku temui,
termasuk kamu.
Mari melepas segala rasa ini tanpa ada rasa ingin kembali. Jika pada akhirnya kau kembali,
mungkin itulah tanda Allah meridhoi. Namun jika tidak, semoga jalanmu tetap dipenuhi
kebaikan dan ketenangan.
Kita melepas dengan rasa tidak saling membenci, tetapi menerima. Menerima bahwa tidak
semua hal harus terburu buru, harus segera kita genggam, dan harus saling memiliki. Kita
melepas untuk menjaga diri kita.
Selamat berfokus pada kuliahmu, pada sesuatu besar yang ingin kamu capai.
"Perasaan itu fitrah, tapi cinta tak sebebas rasa. ia terikat oleh nilai, waktu, dan tanggung
jawab." —@amaarynn_