Cerpen Alsa By Salsabila Syifa


Cerpen Alsa

Oleh : Salsabila Syifa

Di sebuah sekolah bernama SMAN 1 Barokah terdapat satu siswa kelas 11 yang sangat cerdas. Sedari duduk di sekolah dasar, ia dikenal karna kepintarannya, bahkan guru guru memanggilnya Si Pintar. Siswa tersebut bernama Rahmansyah Nasution, Rahman sangat ahli dibidang matematika, kimia, fisika hingga biologi. Ketika ditanya apa cita citanya, Rahman akan selalu menjawab dengan "Ketika aku sudah dewasa, aku ingin menjadi seorang ilmuwan!". Rahman tumbuh dari latar belakang keluarga yang harmonis dan penuh dukungan, akan tetapi orang tuanya kurang mengajarkan nilai nilai agama pada diri Rahman. Hal ini yang membuat Rahman lebih mengedepankan logika dibandingkan ilmu ilmu agama yang sudah ada didalam Al Qur'an. Karna ambisi nya untuk menjadi ilmuwan, dia sering mengikuti berbagai macam ajang lomba sains, dari tingkat antar kelas, sekolah, kecamatan, provinsi dan bahkan ia pernah mengikuti ajang olimpiade sains tingkat internasional! Ini membuktikan, bahwa keinginannya untuk menjadi ilmuwan bukan semata mata ingin, tapi dia membuktikan dengan segenap usaha yang telah dilakukan.


Pada suatu hari, Rahman pergi keluar kota untuk mengikuti seminar tentang sains. Segera setelah tiba di kota tujuan, Rahman langsung menuju ke tempat yang sedari tadi dia pikirkan, tempat seminar yang akan ia ikuti. Setelah masuk ke sebuah gedung besar yang indah dan megah, Rahman pun duduk di deretan kursi paling depan untuk menyimak isi dari seminar hari itu. Pengisi seminar pada hari itu adalah ilmuwan dari London, Professor Jendro. Disana, ia menjelaskan bahwa pada tahun 1999 London mengalami banjir yang tak terkendali. Minimnya pengetahuan dan edukasi kala itu, membuat warga London banyak yang terdampak. Kemudian, Professor Jendro dia hanya diam ketika melihat negara asalnya tengah dihantam oleh penguasa hamparan bumi, air. Ia menciptakan alat anti banjir bernama bendungan, yang kemudian di pasang di sungai sungai terdekat. Setalah itu, banjir benar benar berhenti dan tak pernah datang lagi. Dari cerita Professor Jendro, Rahman pun kemudian terinspirasi untuk melakukan hal serupa, tidak usah menunggu bencana, ia akan merancang nya sedari sekarang untuk dipakai dalam keadaan darurat.


 Setalah selesai mengikuti seminar, Rahman langsung kembali ke kota asalnya. Kebetulan, besok adalah hari Senin, dimana Rahman harus pergi ke sekolah dan mengikuti pembelajaran di hari itu. Hari Senin pun tiba, setelah upacara, jam pelajaran pertama adalah Pendidikan Agama Islam, Pak Raga selaku guru pelajaran tersebut, membuka kelas dengan pertanyaan pemantik. "Anak anak, apakah kalian tau kiamat itu apa?" Tanya nya, sontak satu kelas kompak menjawab "Tahu, pak!". 

Pak Raga kembali bertanya "Apa yang akan kalian lakukan jika terjadi kiamat?" 

Rahman pun mengangkat tangan kemudian menjawab

 "Saya akan membuat sebuah mesin yang bisa membatalkan terjadinya kiamat, pak. Karena saya tahu itu butuh waktu yang lama, saya sudah mulai memikirkannya dari sekarang". Pak Raga yang mendengarnya hanya tersenyum kepada Rahman dan seluruh anggota kelas, kemudian dia bangkit dari duduknya, lalu berkata "Anak anakku sekalian, tahukan kalian isi kandungan dari surat Ar Rahman ayat 33? Apakah Rahman tahu? Bukankah surat ini sama seperti namamu, nak?" Rahman menggeleng pelan tanda tak tahu, apakah ini ada kaitannya dengan impiannya itu? 

"Ar Rahman ini salah satu surat makkiyah, yaitu surat yang diturunkan di kota Mekkah. Isi dari surat Ar Rahman ini ialah seruan kepada jin dan manusia, dan tantangan kepada keduanya untuk menembus bumi dan langit. Arti dari suratnya ialah "Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah; kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Allah).” "Sampai sini, apakah anak anak sekalian sudah paham maksud bapak?" Tanya pak Raga, beberapa anak menggeleng tanda tak paham. "Ini artinya, tiada satupun jin maupun manusia yang bisa menembus langit dan bumi tanpa kehendak Allah. Sama hal nya seperti keinginan Rahman yang ingin membatalkan kiamat. Itu tidak mungkin, nak. Kiamat itu pasti terjadi, bahkan, di rukun iman juga kita diharuskan untuk mengimani nya. 

Tanpa hendak Allah, segala suatu rasanya mustahil terhendakkan." 

Rahman termenung, apa artinya ia akan gagal menjadi seorang ilmuwan? Ah tidak! Masih banyak hal yang bisa ia buat dan akan bermanfaat bagi orang banyak, sejak hari itu, Rahman mulai mempelajari ilmu ilmu agama yang berkaitan dengan kehidupan dan cita citanya. Ia jadi banyak paham setelah mempelajari ilmu ilmu agama, ia menjadi paham, bahwa tidak semua keinginan bisa terwujud tanpa kehendak dan karunia dari Allah. Dari sini kita belajar, memiliki cita cita dan impian tinggi memang tiada salahnya, tapi ingat, bahwa ada sang maha kuasa yang telah mengatur jalannya kehidupan di dunia ini. Kita selaku umatnya, hanya perlu tawakal dan ikhtiar dijalannya.